Film 'Korea Work to Do', Kisah HRD yang Dipaksa Mem-PHK Rekan Kerjanya Sendiri
Film bertema pemutusan hubungan kerja (PHK) umumnya menyoroti perjuangan para karyawan yang kehilangan pekerjaan. Namun, film Korea Work to Do menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Alih-alih mengikuti kisah korban PHK, film garapan sutradara Park Hong-jun ini justru mengajak penonton melihat dilema seorang staf Human Resources (HR) yang mendapat tugas memberhentikan rekan-rekannya sendiri.
Dirilis di Korea Selatan pada September 2024, Work to Do merupakan drama realistis yang terinspirasi dari pengalaman sang sutradara saat bekerja di departemen SDM sebuah perusahaan galangan kapal. Film ini bahkan mendapat apresiasi di sejumlah festival film karena mengangkat sisi lain dari proses restrukturisasi perusahaan.
Sinopsis Work to Do
Tokoh utama film ini adalah Kang Jun-hee (Jang Sung-bum), seorang asisten manajer yang telah bekerja selama empat tahun di Hanyang Heavy Industries, sebuah perusahaan galangan kapal.
Karier Jun-hee berubah ketika ia dipindahkan ke departemen HR. Awalnya, perpindahan itu terlihat seperti kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih nyaman. Namun situasi berubah drastis setelah perusahaan mengalami krisis akibat menurunnya pesanan dan tekanan dari para kreditur.
Manajemen kemudian memutuskan melakukan restrukturisasi besar-besaran. Tim HR ditugaskan menyusun daftar sekitar 150 karyawan yang harus diberhentikan agar perusahaan dapat bertahan. Tugas tersebut membuat Jun-hee berada dalam dilema moral karena ia harus menentukan nasib orang-orang yang selama ini bekerja bersamanya.
Di tengah proses tersebut, politik kantor mulai bermunculan. Atasan berusaha melindungi orang-orang favorit mereka, sementara sebagian karyawan menjadi korban pertimbangan yang tidak sepenuhnya objektif. Situasi semakin sulit ketika Jun-hee harus memilih antara mempertahankan sahabat dekatnya atau senior yang sangat dihormatinya.
Tak hanya menghadapi tekanan di kantor, kehidupan pribadi Jun-hee juga ikut terguncang. Ia sedang mempersiapkan pernikahan dan memiliki cicilan apartemen, sehingga kehilangan pekerjaan bukanlah pilihan baginya. Kondisi tersebut membuatnya tetap menjalankan tugas, meski terus dihantui rasa bersalah.
(dis/fik)