Advertisement

Tak Ada yang Tahu, Museum Terkenal di Jakarta Ini Dulunya Pernah Jadi Panti Jompo

Annisa Nur | Insertlive
Museum Tekstil
Tak Ada yang Tahu, Museum Terkenal di Jakarta Ini Dulunya Pernah Jadi Panti Jompo (Foto: dok. insertlive / Annisa Nur)
Jakarta -

Museum Tekstil yang berada di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, ternyata menyimpan sejarah panjang sebelum resmi dijadikan museum. Bangunan bersejarah tersebut bahkan sempat digunakan sebagai panti jompo hingga markas perjuangan rakyat Indonesia.

Hal itu diungkap oleh edukator Museum Tekstil, Sumariono. Ia menjelaskan gedung tersebut telah beberapa kali berganti kepemilikan sejak masa kolonial.

"Gedung ini sudah berganti-ganti kepemilikan," ujar Sumariono.

Menurut penuturannya, bangunan itu pernah dimiliki oleh Konsul Turki bernama Abdulaziz Al-Rusawi Al-Qatiri. Kemudian pada tahun 1942, gedung tersebut dibeli oleh kolektor asal Belanda bernama Karel Christian Krupp.

Advertisement

Saat pecah perang revolusi pada 1945, bangunan itu sempat dijadikan markas tentara BKL atau Badan Keamanan Rakyat Indonesia.

Tak lama berselang, tepatnya pada 1947, gedung tersebut kembali berpindah tangan kepada warga keturunan Tionghoa bernama Liu Sipin dan digunakan sebagai tempat tinggal.

"Tahun 1952 dibeli lagi oleh dinas sosial, digunakan sebagai panti jompo," kata Sumariono.

Barulah pada tahun 1976 bangunan tersebut resmi difungsikan sebagai Museum Tekstil. Pemilihan museum tekstil disebut tidak lepas dari letaknya yang berada dekat dengan kawasan Tanah Abang yang dikenal sebagai sentra industri tekstil terbesar di Asia Tenggara pada masanya.

Museum Tekstil diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto pada 28 Juni 1976.

Sumariono menjelaskan ide pendirian museum berasal dari organisasi pecinta kain, tenun, dan batik bernama Wastraprema. Kala itu mereka khawatir keberadaan batik tradisional mulai tergerus perkembangan industri modern.

"Mereka punya keinginan untuk melestarikan batik, tenun, dan semua yang berhubungan dengan tekstil," jelasnya.

Dari gagasan tersebut, akhirnya didirikan Museum Tekstil dengan koleksi awal sekitar 500 kain yang merupakan sumbangan dari organisasi Wastraprema.

Kini Museum Tekstil memiliki beragam koleksi mulai dari batik, tenun, alat-alat tenun, hingga berbagai aplikasi tekstil dari berbagai daerah di Indonesia.

(ANN/and)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement