Kenapa Kereta Api Tidak Bisa Mengerem Mendadak? Begini Penjelasannya
Insiden kecelakaan kereta api (KA) yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam telah menuai perhatian masyarakat.
KA Argo Bromo Anggrek diketahui melaju dengan kecepatan tinggi saat menabrak KRL Commuter Line hingga menyebabkan gerbong depan KA Argo Bromo Anggrek masuk ke gerbong KRL Commuter Line.
Peristiwa mengenaskan ini langsung memunculkan pertanyaan soal alasan kereta api tak bisa melakukan pengereman mendadak untuk menghindari tabrakan. Pengereman mendadak disebut sebagian orang bisa mencegah kecelakaan terjadi.
Namun, sistem pengereman kereta api berbeda dengan kendaraan darat lainnya. Oleh karena itu, kereta api tak bisa melakukan pengereman mendadak untuk mencegah kecelakaan. Transportasi darat satu ini membutuhkan jarak tertentu untuk berhenti sepenuhnya saat proses pengereman.
Alasan Kereta Api Tidak Bisa Mengerem Mendadak
Kereta api tidak bisa mengerem mendadak karena beberapa faktor yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Berikut merupakan ulasannya.
1. Panjang dan Berat Rangkaian Kereta Api
Salah satu faktor utama yang membuat pengereman tidak bisa dilakukan mendadak adalah panjang dan berat rangkaian kereta. Semakin panjang dan berat kereta, maka semakin besar pula jarak yang dibutuhkan untuk berhenti.
Satu rangkaian kereta penumpang di Indonesia pada umumnya terdiri atas delapan hingga 12 gerbong dengan bobot sekitar 600 ton. Beban ini belum termasuk penumpang serta barang bawaan di dalam kereta.
Kondisi ini membuat energi yang diperlukan untuk menghentikan kereta menjadi sangat besar. Pengereman kemudian perlu dilakukan dari jarak tertentu agar beban kereta yang mencapai ratusan ton bisa berhenti dengan selamat.
2. Sistem Pengereman
Sistem pengereman kereta api di Indonesia pada umumnya menggunakan rem udara. Mekanisme rem ini bekerja dengan cara mengompresi udara yang kemudian disalurkan melalui pipa di sepanjang roda untuk menciptakan friksi alias gesekan.
Gesekan dengan rel kereta api kemudian akan memperlambat hingga menghentikan laju kereta secara perlahan.
Meski ada sistem rem darurat, hal ini tetap tidak memungkinkan kereta untuk berhenti mendadak. Sistem rem darurat hanya membantu mempercepat proses pelambatan kereta dengan tekanan udara yang lebih besar.
Sistem rem kereta bekerja dengan menggunakan tekanan udara yang terhubung dengan piston dan silinder pada roda. Jika tekanan dilepaskan secara mendadak, pengereman bisa menjadi tidak merata.
Pengereman yang tidak merata berisiko menyebabkan gerbong tergelincir, terseret, bahkan terguling dari rel kereta.
Oleh karena itu, kendaraan yang menyeberang rel kereta juga perlu memerhatikan keselamatan sendiri dengan mematuhi rambu lalu lintas. Hal ini mengingat sistem pengereman kereta yang tidak bisa dilakukan secara mendadak.
(asw)