Creator Economy Berkembang, Audiens Kini Punya Kontribusi untuk Promosi Bisnis
Creator economy menghadirkan peran besar kreator sebagai penggerak ekonomi kini makin berkembang, terutama didukung dengan platform digital yang semakin canggih dan beragam.
Lewat perkembangan ekonomi dengan dukungan kreator, promosi bisnis kini cukup bergantung pada komunitas dan relevansi dari audiens.
Lewat forum diskusi The Future of Influence yang digelar di Plaza Indonesia pada Kamis (23/4), Jehian Sijabat selaku Co-Creator Creators Association of Southeast Asia mendeskripsikan 'influence' atau pengaruh sebagai sebuah jembatan transparan untuk promosi.
"Soal influence, kalau dulu itu kita kan menggunakan istilah yang sangat konkrit gitu. Nah, kalau sekarang saya lihat influence ini seperti jembatan transparan, kita nggak lihat tapi bisa sampai ke seberang," ungkap Jehian pada kesempatan tersebut.
"Influence di era creator economy ini lebih kompleks dan sifatnya lebih 'silent'. Mungkin lebih masuk ke berbagi ide, seperti pikiran 'oh ternyata aku bisa relate sama dia'," tambahnya.
Sementara Andi Renreng selaku Marketing Director Xiaomi Indonesia mencoba melihat perkembangan creator economy dari kacamata brand. Andi mengungkapkan bahwa industri kini tak melihat audiens hanya sebagai target pasar, tetapi juga 'influencer' soal produk mereka.
"Kami melihat seberapa besar kebutuhan mereka hingga akhirnya mereka nanti berbicara sendiri soal produk yang digunakan, mereka akan menyampaikan teknologi itu ke orang lain dan 'influence' akan terjadi dengan sendirinya," kata Andi Renreng.
Forum Diskusi The Future of Influence/ Foto: InsertLive/Arundati Swastika |
Pada kesempatan yang sama, kreator di balik film Jumbo dan Na Willa, Rian Adriandhy juga mengungkapkan pandangannya mengenai influence dalam creator economy saat ini. Ia mengungkapkan bahwa 'influence' merupakan perpanjangan tangan dari trust alias kepercayaan.
Jika ada kepercayaan yang dibangun, maka akan ada pengaruh atau 'influence' yang juga ikut terbangun dalam ekonomi saat ini. Ia juga menegaskan bagaimana platform digital, kreator, dan rasa percaya dari audiens punya kaitan erat untuk meningkatkan influence.
"Menurut saya, platform, trust, dan audiens semuanya saling berkaitan. Semua punya peran penting untuk membantu adanya influence, saya perlu platform untuk konten yang membangun rasa percaya dari audiens," beber Rian.
Jehian Sijabat kemudian membandingkan pola influence yang berbeda dari kreator masa kini. Jika di masa lalu para kreator cenderung mempromosikan sebuah produk usai dibayar perusahaan, kini para influencer punya produk sendiri untuk dipromosikan.
Artinya, kreator ikut serta menjadi pebisnis yang mendorong pergerakan ekonomi lewat konten yang mereka buat. Audiens atau penonton juga turut punya andil dalam 'mengontrol' konten yang diproduksi oleh kreator.
Jehian kemudian mencontohkan YouTuber yang punya sistem keanggotaan. Hal ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan audiens untuk membentuk konten yang dihasilkan, menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam creator economy.
"Perkembangan creator economy di Asia Tenggara sendiri ternyata juga punya potensi yang sangat besar untuk dikembangkan," ungkap Jehian.
Forum Diskusi The Future of Influence/ Foto: InsertLive/Arundati Swastika |
Sementara Andi Renreng menyebut para kreator sebagai kolaborator strategis dalam promosi bisnis. Mereka disebut sebagai pihak yang mampu membangun narasi kuat sehingga influence yang diharapkan bisa tersampaikan.
"Kreator saat ini memiliki peran penting bagi brand, terutama karena mereka bisa membangun narasi kuat sehingga menjadikan mereka sebagai partner strategis," ungkap Andi.
Kreator dan audiens kemudian menjadi pihak yang menggerakkan ekonomi didukung dengan perkembangan platform digital yang masif.
(asw/fik)
Forum Diskusi The Future of Influence/ Foto: InsertLive/Arundati Swastika
Forum Diskusi The Future of Influence/ Foto: InsertLive/Arundati Swastika