Advertisement

Film 'Ain' Tayang Mei 2026, Usung Genre Body Horror

Steffy Gracia | Insertlive
Film Ain
Film 'Ain' Tayang Mei 2026, Usung Genre Body Horror (Foto: Insertlive)
Jakarta -

Industri film horor Indonesia kembali menghadirkan warna baru lewat Ain, karya terbaru dari MVP Pictures yang dijadwalkan tayang mulai 7 Mei 2026 di bioskop. Disutradarai Archie Hekagery, film ini mengusung konsep body horror yang dipadukan dengan elemen psikologis dan spiritual, sehingga menghadirkan pengalaman yang terasa berbeda dari horor kebanyakan.

Tidak sekadar menampilkan teror visual, Ain juga mencoba mengangkat fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di era media sosial. Film ini menyoroti bagaimana tekanan untuk tampil sempurna dan sorotan publik bisa membuka celah pada hal-hal yang tidak terlihat, termasuk energi negatif dari orang lain.

Kisah Beauty Influencer yang Diteror 'Ain'

Cerita dari film ini sendiri berpusat pada Joy, seorang beauty influencer yang dikenal dengan kehidupan glamor dan citra sempurna di media sosial. Namun di balik layar, Joy hidup dalam tekanan besar untuk terus terlihat ideal di hadapan publik.

Semuanya berubah ketika tubuhnya mulai mengalami perubahan aneh yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Kondisi tersebut perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih gelap, berkaitan dengan konsep "ain" atau evil eye, yaitu kepercayaan tentang dampak buruk dari pandangan iri atau kekaguman berlebihan dari orang lain.

Advertisement

Perubahan yang dialami Joy tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga mentalnya. Ia mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara teror yang datang semakin sulit dijelaskan secara logika.

Dalam film ini, "ain" tidak hanya digambarkan sebagai rasa iri, tetapi juga bisa muncul dari kekaguman yang berlebihan.

"Dalam film ini, Ainnya menggunakan sosial media, karena lagi marak ya. Beauty influencer menurutku jadi pilihan yang bisa dimengerti, karena kompetisinya tinggi dan semua dilihat dari sana. Disimbolkan dengan mata, karena dari situ muncul iri, dengki," jelas Putri Ayudya saat ditemui Insertlive pada Kamis (16/04).

Hal inilah yang membuat ceritanya terasa lebih dekat dengan realita, terutama di tengah budaya media sosial yang serba terbuka.

Lalu di tengah kondisi Joy yang semakin memburuk, hadirlah Dini, sahabat lamanya sejak SMA. Dini mulai merasa ada yang tidak beres setelah melihat perubahan pada Joy, apalagi ia pernah mengalami teror serupa di keluarganya.

Kedekatan mereka menjadi pintu masuk untuk mengungkap misteri di balik kejadian tersebut. Dari sini, lapisan demi lapisan cerita mulai terbuka dan membawa penonton pada suasana yang semakin mencekam.

Tantangan Peran dan Transformasi Karakter

Fergie Britanny yang memerankan Joy mengungkap bahwa karakter Joy bukan sekadar ambisius, tetapi juga memiliki sisi gelap yang tidak disadari.

"Joy itu ambisius, keras kepala, tapi not in a good way. Ambisinya didorong oleh hal-hal negatif, jadi secarang gak sadar dia mengundang ain dalam hidupnya," jelasnya.

Ia juga menghadapi tantangan besar dari segi fisik, terutama penggunaan prostetik untuk menggambarkan perubahan tubuh Joy di berbagai fase.

"Makeup prostetiknya sih cukup berat. Sekali pasang tuh bisa satu jam, lepasnya juga satu jam. Dan bukan yg dipake seharian terus selesai syuting dilepas, karena ada fase-fasenya nih pas Joy kena ain dari fase 1 sampe 4 itu gimana," tambahnya.

Sementara itu, Putri Ayudya yang memerankan Dini juga menghadapi tantangan tersendiri, terutama dari sisi penampilan.

"Karakter Dini itu kan dosen dan dia menggunakan niqab. Dari segi kostum saja sudah beda banget. Pas pakai niqab, rasanya langsung masuk ke karakter. Ada rasa terlindungi juga memang, tapi tetap butuh adaptasi, bahkan untuk hal sederhana seperti jalan atau naik tangga," ujarnya.

Ia juga mengaku bahwa peran ini membuatnya lebih memahami konsep ain yang sebelumnya belum terlalu dikenal.

Menariknya, baik Putri maupun Fergie mengaku pengalaman bermain di film ini membuat mereka lebih berhati-hati dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menggunakan media sosial.

"Sejak kenal ain, jadi lebih mindful dan bijak dalam melakukan sesuatu, terutama yang berpotensi memicu rasa iri dari orang lain," kata Putri.

Senada dengan hal tersebut, Putri juga menilai film ini tak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi bisa menjadi pembelajaran bagi penonton.

"Menurutku ini bisa jadi edutainment. Informasi yang baik supaya kita lebih bijak dan punya hubungan yang lebih baik dengan Tuhan."

Film Ain tidak hanya mengandalkan jumpscare atau visual body horror yang mengerikan, tetapi juga membangun ketegangan dari hal-hal yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tekanan untuk selalu tampil sempurna, budaya pamer di media sosial, hingga rasa iri yang kerap dianggap sepele diramu menjadi ancaman yang perlahan mencekam. Kombinasi perpaduan horor fisik, psikologis, dan spiritual inilah membuat film ini tampil dengan warna berbeda di tengah genre horor Tanah Air.

Dengan cerita yang relevan dan pendekatan yang berbeda, Ain menjadi salah satu film horor Indonesia yang patut dinantikan tahun ini. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 7 Mei 2026.

(yoa/yoa)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement