Ramai Diburu di Sungai Jakarta, Ikan Sapu-Sapu Aman Dimakan atau Justru Berbahaya?
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belakangan ini gencar melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di berbagai sungai dan saluran air. Langkah ini dilakukan karena ikan tersebut berkembang sangat cepat dan dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu termasuk jenis invasif yang bisa merusak habitat ikan lain. Jika dibiarkan, populasinya akan terus meningkat dan mengancam keberlangsungan ekosistem sungai.
Namun, muncul pertanyaan di masyarakat: setelah ditangkap, apakah ikan sapu-sapu aman untuk dikonsumsi?
Belakangan ini, ikan sapu-sapu mulai dilihat sebagai alternatif makanan karena harganya murah dan kandungan proteinnya cukup tinggi. Di beberapa daerah, ikan ini bahkan sudah diolah menjadi berbagai masakan.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa ada risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.
Bisa Mengandung Logam Berbahaya
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ikan yang hidup di perairan tercemar berpotensi mengandung logam berat seperti arsen, merkuri, timbal, dan kadmium.
Hal ini terjadi karena ikan sapu-sapu termasuk jenis pemakan dasar (bottom-feeder), yang sering mengonsumsi lumpur dan sisa-sisa di dasar sungai. Jika airnya tercemar limbah industri, pertanian, atau rumah tangga, zat berbahaya tersebut bisa ikut terakumulasi di dalam tubuh ikan.
Jadi, Aman atau Tidak?
Secara umum, ikan sapu-sapu memang bisa dimakan dan mengandung protein. Namun, risikonya cenderung lebih tinggi dibanding ikan lain, terutama jika ditangkap dari sungai yang kualitas airnya buruk.
Jika ingin mengonsumsi ikan untuk kesehatan jangka panjang, pilihan seperti ikan laut-misalnya ikan kembung-dinilai lebih aman dan memiliki nilai gizi yang lebih baik.
Operasi penangkapan ikan sapu-sapu ini memang bertujuan baik, yaitu menjaga lingkungan. Namun, untuk urusan konsumsi, masyarakat tetap perlu berhati-hati.
Pastikan sumber ikan jelas dan berasal dari perairan yang bersih agar terhindar dari risiko kesehatan. Karena meski murah dan mudah didapat, keamanan pangan tetap harus jadi prioritas utama.
(yoa/fik)