Jarang Diketahui, Kue Lebaran Ini Ternyata Bukan Asli Indonesia
Perayaan Lebaran di Indonesia sangat identik dengan beberapa kue kering yang disajikan di atas meja. Salah satu kue lebaran yang sangat populer adalah nastar, kue bertekstur lembut yang diisi dengan selai nanas. Dengan paduan rasa manis dan asam, kue ini banyak digemari masyarakat Indonesia ketika Lebaran.
Namun, tahukah kamu bahwa ternyata Nastar itu bukan kue asli Indonesia? Rupanya, kue kering dengan aroma butter yang pekat ini diadaptasi dari kuliner Belanda, lho!
Kue Nastar diketahui merupakan salah satu warisan kuliner dari masa kolonial Belanda. Nama Nastar diserap dari gabungan dua kata dalam bahasa Belanda, yaitu ananas (nanas) dan taart (pai). Nama tersebut kemudian disesuaikan dengan penyebutan bahasa Indonesia hingga akhirnya disederhanakan menjadi "nastar", seperti yang kita kenal sekarang.
Penyederhanaan sebutan ini dilakukan karena adanya perbedaan sistem bunyi antarbahasa. Bahasa Indonesia sendiri tidak mengenal vokal panjang atau konsonan letup di akhir kata seperti bahasa Belanda. Beberapa bunyi tertentu akhirnya dihapus agar lebih selaras dengan lidah masyarakat lokal dan lebih mudah diucapkan.
Nastar telah melalui perjalanan yang panjang sebelum akhirnya populer di kalangan masyarakat Indonesia. Mengutip dari buku Jejak Rasa Nusantara (2016), kue ini mulai dikenal luas pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, seiring dengan banyaknya buku resep masakan Hindia Belanda yang mulai beredar.
Resep kue ini sendiri sebenarnya terinspirasi dari kreasi pai khas Belanda yang biasanya menggunakan isian selai bluberi, apel, atau stroberi. Ketika bangsa Belanda datang ke Indonesia, tercipta ruang kreativitas baru di dapur Nusantara. Kala itu, para perempuan Belanda dan Indonesia aktif bereksperimen di dapur dan mempublikasikan temuan kuliner mereka ke dalam media cetak. Dari sinilah perpaduan budaya kuliner itu terjadi.
Ketika ingin membuat kue pai tersebut, mereka kesulitan mencari bluberi, stroberi, dan apel yang memiliki tekstur yang sama dengan buah yang biasa mereka temukan di Belanda. Alhasil, mereka mengganti isian tersebut dengan buah yang lebih mudah dijumpai di daerah tropis, yakni buah nanas.
Hasil perpaduan tersebut kemudian menghasilkan kue tart kecil berisi selai nanas yang kemudian dikenal sebagai nastar. Tekstur kue ini juga mengalami banyak perubahan dan modifikasi dari bentuk kue aslinya ketika masuk di Indonesia.
Dari kue tart Eropa yang berukuran lebih besar, kue nastar di Indonesia dibuat lebih kecil dan bisa disantap dalam satu gigitan. Kue ini juga mengalami perubahan bentuk dan tekstur saat diadaptasi ke kuliner Indonesia. Kue nastar dibentuk lebih bulat atau lonjong dengan tekstur mengkilap dari olesan kuning telur di bagian atasnya..
Sekitar tahun 1920-1930-an, popularitas kue tersebut semakin berkembang seiring dengan kemudahan perolehan bahan makanan, seperti mentega, keju, dan susu. Kondisi ini membuat nastar semakin dikenal di kalangan masyarakat lokal di perkotaan.
Lambat laun, nastar tidak lagi dikenal sebagai makanan asing. Kini, kue tersebut telah menjadi bagian dari tradisi Lebaran yang selalu dirayakan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya.
Menariknya, nastar tidak hanya populer di tanah air saja. Kue nanas juga dikenal luas di negara sekitar kita, seperti Malaysia dan Singapura. Di negara tersebut, kue nastar hadir dalam bentuk yang unik dan bervariasi, seperti tart yang terbuka hingga menyerupai buah nanas mini.
(dis)