Ada 65 Juta Masyarakat Indonesia Kena Hipertensi gegara Kebiasaan Makan Ini
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan ada sekitar 65 juta penduduk di Indonesia yang mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Angka itu cukup tinggi karena masih banyak masyarakat yang tidak bisa lepas dari pola hidup yang kurang baik. Masyarakat Indonesia masih sering melakukan kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar garam yang tinggi.
"Dan garam tadi sangat erat kaitannya dengan penyakit hipertensi," ucap dr Siti dalam acara Hari Gizi Nasional ke-66 tahun dalam YouTube Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga.
Dokter Siti menyebut kebiasaan ini dilakukan tanpa sadar. Terutama ketika masyarakat sering membeli makanan di luar rumah. Garam adalah zat yang bisa membuat tubuh beradaptasi jika dikonsumsi secara terus-menerus.
Sehingga lidah akan terbiasa dengan rasa asin yang kuat. Ketika asupannya dikurangi, makanan akan terasa hambar. Hal itu juga terlihat dari tersedianya garam tambahan di meja restoran untuk memberikan sedikit rasa pada makanan yang dimasak oleh koki.
"Makanya kenapa seringkali di meja-meja (restoran) suka ditambahi garam, karena katanya standar antara koki yang masak sama lidah kita berbeda. Padahal itu artinya kita mungkin sudah mengonsumsi garam yang berlebihan," bebernya.
Selain itu, masyarakat Indonesia juga sering mengonsumsi makanan yang tinggi garam seperti ikan asin. Ada baiknya sebelum diolah, ikan asin dicuci atau direndam terlebih dulu.
Langkah itu bisa mengurangi kandungan garam pada ikan asin. Selain itu, dalam proses memasaknya hindari penambahan garam secara berlebihan.
"Nah, kalau kemudian ditambah asupan garam yang cukup tinggi, kita tahu orang Indonesia itu suka apa sih? Makan ikan asin. Bukan berarti nggak boleh makan ikan asin," tuturnya.
"Boleh makan ikan asin, tapi sebelum digoreng kurangi kadar asinnya. Kemudian kita tahu bisa-bisanya dicuci atau direndam dulu sehingga kadar asinnya sudah berkurang. Dan sebaiknya pengolahan makanan sudah tidak lagi menggunakan tadi kadar garam yang terlalu berlebihan," lanjutnya.
(agn/fik)