Ikan Lele vs Ikan Kembung, Mana yang Lebih Sehat untuk Tubuh?
Ikan Lele vs Ikan Kembung, Mana yang Lebih Sehat untuk Tubuh?
Ikan sudah lama dikenal sebagai sumber protein andalan yang mudah diolah dan ramah di kantong. Di antara sekian banyak pilihan, ikan lele dan ikan kembung menjadi dua jenis yang paling sering muncul di meja makan masyarakat Indonesia. Keduanya sama-sama mudah ditemukan, cocok diolah dengan berbagai bumbu rumahan, dan punya penggemarnya masing-masing.
Meski kerap dianggap setara, lele dan kembung sebenarnya memiliki perbedaan cukup signifikan dari sisi kandungan gizi hingga faktor keamanannya. Lantas, jika dibandingkan, mana yang sebenarnya lebih sehat untuk dikonsumsi?
Ikan lele dan ikan kembung memang sama-sama populer di pasar tradisional maupun swalayan. Namun, jika ditelaah lebih dalam, profil nutrisi keduanya tidak bisa disamakan begitu saja.
Ikan Lele
Lele dikenal sebagai ikan air tawar dengan kandungan protein yang cukup baik. Tekstur dagingnya lembut, rasanya gurih, dan mudah diterima oleh lidah banyak orang. Tak heran jika lele sering menjadi menu favorit keluarga.
Meski begitu, lele memiliki kandungan omega-3 yang relatif lebih rendah dibandingkan ikan laut. Selain itu, kadar lemaknya cenderung lebih tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering tanpa variasi sumber protein lain, asupan lemak ini berpotensi kurang ideal bagi kesehatan jangka panjang.
Faktor lingkungan tempat lele berkembang biak juga patut diperhatikan. Kualitas gizi dan keamanan lele sangat bergantung pada kondisi air dan pakan di tempat budidayanya. Lele yang dibesarkan di kolam bersih tentu lebih aman dibandingkan lele yang berasal dari perairan tercemar.
Ikan Kembung
Di sisi lain, ikan kembung sering disebut sebagai salah satu ikan laut dengan nilai gizi tinggi dengan harga tetap terjangkau. Ikan ini kaya akan omega-3 yang berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, fungsi otak, serta membantu menurunkan risiko peradangan. Selain itu, ikan kembung juga mengandung vitamin D dan vitamin B12 dalam jumlah yang cukup tinggi, nutrisi yang dibutuhkan untuk kesehatan tulang, sistem saraf, dan pembentukan sel darah.
Keunggulan ikan kembung juga terlihat dari sisi keamanannya. Sebagai ikan laut berukuran kecil dengan siklus hidup yang relatif pendek dan berada di rantai makanan bawah, ikan kembung cenderung memiliki kadar merkuri yang lebih rendah dan stabil. Hal ini membuatnya sering direkomendasikan untuk dikonsumsi secara rutin, termasuk oleh anak-anak dan ibu hamil.
Berbeda dengan beberapa jenis ikan besar yang berpotensi mengandung merkuri tinggi, ikan kembung relatif lebih aman untuk dikonsumsi. Perlu diketahui, merkuri tidak dapat dihilangkan melalui proses memasak, baik digoreng, direbus, maupun dibakar. Karena itu, pemilihan jenis ikan jadi faktor paling penting, bukan sekadar cara pengolahannya saja.
Secara keseluruhan, ikan lele tetap bisa menjadi pilihan sumber protein yang ekonomis dan bergizi, asalkan berasal dari budidaya yang bersih dan dikonsumsi secara seimbang. Namun, jika tujuan utamanya adalah mendapatkan asupan gizi yang lebih lengkap dengan risiko paparan polutan yang lebih rendah, ikan kembung layak menjadi pilihan utama untuk konsumsi jangka panjang.
Dengan memilih jenis ikan yang tepat dan memperhatikan asalnya, asupan gizi harian tetap bisa terpenuhi dengan lebih seimbang. Baik lele maupun kembung sama-sama punya manfaat jika dikonsumsi secara bijak. Semoga informasi ini bisa membantu Insertizen menentukan pilihan lauk yang lebih sehat untuk menu sehari-hari, ya!
(Steffy Gracia/arm)