Fry Meetups, Tren Nongkrong Ala Gen Z yang Viral di Korea
Gen Z Korea Selatan tengah ramai dengan tren sosial Fry Meetups. Fenomena sosial ini digandrungi para generasi muda karena melibatkan pertemuan orang-orang asing yang tak saling kenal untuk menyantap kentang goreng bersama.
Menurut laporan The Korea Times, tren viral ini bisa dikatakan cukup sederhana. Penyelenggara atau si inisiator akan mengumpulkan orang-orang asing untuk bertemu di gerai waralaba makanan cepat saji.
|
Baca Juga : Tips Fashion Buat Perempuan Bertubuh Mungil
|
Saat kuota orang dinilai sudah memenuhi, acara Fry Meetups akan dimulai saat kentang goreng dalam porsi besar datang dan disantap bersama sambil mengobrol.
Mulanya, tren Fry Meetups ini berawal dari aplikasi Karrot. Karrot yang dikenal sebagai Danggeun Market merupakan aplikasi lokal yang menjadi wadah jual beli barang bekas berbasis komunitas atau hyperlocal yang populer di Korea Selatan.
Secara harfiah, Danggeun berarti wortel yang juga singkatan frasa 'di dekat rumahmu'. Karrot beda dari aplikasi jual-beli biasa karena mengedepankan jarak antara 6-10 kilometer serta interaksi sosial antar tetangga tanpa pernah kenal sebelumnya.
Karrot memiliki fitur Manner Meter atau suhu kesopanan yang ikonik. Tiap pengguna memiliki skor berupa suhu tubuh dengan nilai standar dari 36,5°C.
Bila pengguna dinilai sopan, suhu akan naik dengan maksimal 99°C dan bisa turun jika sikap dinilai buruk. Dua fitur ini yang akhirnya memunculkan tren Fry Meetups yang viral di Korea Selatan.
Setidaknya ada 99 grup Fry Meetups yang berpusat di Seoul dalam aplikasi tersebut.
Namun, tren ini juga memiliki risiko kesehatan karena rutinitas mengonsumsi makanan olahan dengan metode penggorengan suhu tinggi.
Konsumsi kentang goreng jangka panjang bisa meningkatkan risiko neurodegeneratif seperti Alzheimer yang lebih tinggi.
(dis/dis)