Fakta Menarik Myanmar, Negeri Seribu Pagoda yang Muncul di Film Lisa BLACKPINK
Fakta Menarik Myanmar, Negeri Seribu Pagoda yang Muncul di Film Lisa BLACKPINK
Negara Myanmar baru-baru ini menjadi sorotan publik karena diduga akan menjadi salah satu latar dalam film Korea terbaru bertajuk TYGO yang dibintangi Lisa Blackpink.
Dugaan ini muncul usai TYGO diketahui melangsungkan syuting di Indonesia, tetapi dengan latar tempat yang disulap menjadi Myanmar. Hal ini membuat banyak orang semakin penasaran dengan negara tersebut.
Myanmar merupakan salah satu negara di Asia Tenggara dengan sebutan Negara Seribu Pagoda karena ada ribuan kuil dengan pagoda berlapis emas yang tersebar di seluruh negeri, membuat negara ini menjadi salah satu pusat spiritual sejak abad ke-9.
Jadi negara yang disorot usai jadi latar dalam film terbaru Lisa BLACKPINK, berikut merupakan deretan fakta unik Myanmar.
1. Pagoda Emas Raksasa, Dipercaya Menyimpan Rambut Buddha Gautama
Myanmar seperti julukannya, memiliki kekayaan wisata berupa ribuan pagoda yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Wilayah Bagan menjadi kawasan terbaik bagi mereka yang ingin berwisata untuk melihat berbagai stupa kuno.
Namun salah satu lokasi wisata yang paling ikonik di Myanmar adalah Shwedagon Paya, sebuah pagoda megah berlapis emas yang berlokasi di Yangon, bekas ibukota negara.
Shwedagon Paya menjadi tempat ibadah termegah di Myanmar yang memiliki sebuah stupa emas setinggi 99 meter dan dipenuhi benda berharga. Tak hanya itu, pagoda ini dipercaya menyimpan delapan helai rambut suci Buddha Gautama.
Pagoda megah ini kemudian menjadi salah satu tempat ibadah paling penting di Myanmar dan menjadi salah satu tujuan wajib untuk wisata religius.
2. Yangon, Bekas Ibu Kota Negara yang Bebas Sepeda Motor
Tak banyak yang tahu jika bekas ibu kota negara Myanmar, Yangon melarang penggunaan sepeda motor. Yangon menjadi satu-satunya kota besar di Asia Tenggara yang memberlakukan larangan ini.
Pemerintah Myanmar diketahui telah memberlakukan larangan penggunaan sepeda motor di 33 kota kecil sejak awal 2000-an. Yangon kemudian menjadi kota besar yang hanya dipadati oleh taksi dan bus.
Penggunaan sepeda motor di kota seperti Yangon kemudian hanya diizinkan untuk pejabat pemerintah dan polisi.
3. Peiktha, Sistem Pengukuran Unik yang Cuma Ada di Myanmar
Myanmar merupakan satu dari tiga negara di dunia yang tidak menggunakan sistem metrik, tetapi menggunakan sistem pengukuran sendiri yang disebut peiktha. Sistem metrik ini merupakan cara mengukur tradisional Burma.
Peiktha kemudian disebut sebagai viss dalam bahasa Inggris. 1 peiktha kemudian memiliki nilai yang sama dengan 1,63293 kilogram. Sistem pengukuran ini umum digunakan dalam perdagangan sehari-hari di Myanmar.
Memiliki sistem pengukuran unik, ada baiknya untuk membuat catatan soal peiktha jika ingin berkunjung dan berbelanja di Myanmar.
4. Laphet Thoke, Salad Daun Teh yang Unik dari Myanmar
Jika daun teh pada umumnya diolah menjadi minuman, Myanmar punya cara unik untuk mengolah daun teh menjadi salad bernama laphet thoke. Daun teh difermentasi selama beberapa minggu sebelum disajikan dengan sejumlah bahan seperti kacang panggang, kubis, hingga irisan tomat.
Makanan ini punya cita rasa asam, gurih, dan sedikit pahit. Laphet thoke kemudian memberikan pengalaman unik dalam mengonsumsi olahan daun teh.
Laphet thoke menjadi hidangan unik khas Myanmar yang bisa dikonsumsi dalam berbagai suasana, baik sebagai camilan hingga pendamping nasi. Laphet thoke membuat Myanmar menjadi salah satu negara yang mengonsumsi langsung daun teh sebagai makanan.
5. Yoke Thé, Seni Wayang Khas Myanmar yang Unik
Yoke thé merupakan seni wayang tradisional khas Burma yang menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Myanmar. Seni wayang ini berasal dari abad ke-15 dan sempat mengalami kemunduran di tahun 1880-an, tetapi kini kembali sebagai salah satu seni yang unik.
Pengendalian boneka yoke thé pun cukup rumit, di mana satu boneka memerlukan 18 hingga 19 kawat dan benang yang dikendalikan seorang seniman terampil. Boneka-boneka dalam kesenian ini umumnya memiliki 28 tokoh standar, termasuk raja, ratu, menteri, hingga binatang.
Pertunjukkan yoke thé kemudian melibatkan iringan orkestra dan nyanyian tradisional untuk menyampaikan kisahnya.
(asw/fik)