3 Poin Penting Perlawanan Terhadap Penyalahgunaan AI dari Scarlett Johansson dan 700 Sineas
Isu kecerdasan buatan kembali memicu gejolak di industri hiburan global. Lebih dari 700 aktor, penulis naskah, dan sineas, termasuk Scarlett Johansson, Cate Blanchett, dan Joseph Gordon-Levitt, bersatu dalam sebuah kampanye anti-AI yang menyoroti ancaman serius terhadap hak dan identitas kreator.
Mengutip laporan Variety (22/1), ratusan figur publik tersebut secara resmi meluncurkan kampanye global untuk mendesak perlindungan hukum yang lebih ketat terhadap penggunaan kecerdasan buatan, khususnya praktik deepfake dan teknologi AI generatif yang dinilai semakin tak terkendali di industri kreatif.
Kampanye ini bertujuan mencegah penggunaan gambar, suara, dan identitas aktor tanpa izin, yang kini kian mudah direplikasi secara digital. Para sineas menilai, tanpa regulasi jelas, teknologi AI berpotensi merampas hak personal para pekerja seni.
Gerakan yang didukung jajaran aktor papan atas ini menuntut adanya regulasi internasional yang menjamin identitas seorang artis merupakan hak pribadi yang tidak boleh dikloning secara digital tanpa kontrak yang transparan dan kompensasi yang adil.
Scarlett Johansson menjadi salah satu figur paling vokal dalam kampanye ini. Sebelumnya, ia sempat terlibat sengketa dengan OpenAI terkait penggunaan suara AI yang dinilai sangat mirip dengan suaranya. Bagi Johansson, persoalan ini jauh melampaui urusan bisnis semata.
Ia menegaskan bahwa isu AI menyentuh aspek paling mendasar dari hak asasi manusia, yakni hak seseorang untuk mengontrol identitas dirinya sendiri di ruang digital.
Poin Penting Kampanye Anti-AI Para Sineas
Beberapa tuntutan utama yang disuarakan dalam kampanye global ini antara lain:
- Perlindungan Lintas Negara
Mendesak pemerintah di berbagai negara untuk menyelaraskan hukum terkait hak citra digital, agar identitas aktor tidak dapat "dicuri" oleh perusahaan yang beroperasi di wilayah dengan regulasi lemah. - Transparansi Perusahaan Teknologi
Menuntut perusahaan AI untuk terbuka mengenai data yang digunakan dalam pelatihan model mereka, terutama jika menyangkut karya yang dilindungi hak cipta.
- Labeling Konten AI
Mewajibkan setiap konten hasil AI diberi label yang jelas agar publik tidak tertipu oleh manipulasi digital atau deepfake.
Cate Blanchett turut menyoroti bahwa dampak AI tidak hanya mengancam aktor besar, tetapi justru lebih berbahaya bagi aktor pendatang baru dan pengisi suara yang posisinya lebih rentan tergantikan oleh mesin.
"Kita tidak sedang melawan teknologi, kita sedang melawan eksploitasi yang tidak beretika," tegas Blanchett dalam pernyataan resminya.
Kampanye ini muncul di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara serikat pekerja Hollywood dan studio-studio besar terkait penggunaan AI dalam produksi film dan serial.
Kehadiran nama-nama besar seperti Johansson dan Blanchett diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap pembuat kebijakan di Washington D.C. dan Uni Eropa.
Dukungan dari berbagai organisasi internasional yang fokus pada hak kekayaan intelektual juga menegaskan bahwa persoalan AI kini telah menjadi isu global, bukan sekadar konflik internal industri hiburan Hollywood.
(ikh/ikh)