Heboh Broken Strings Aurelie, Pelaku Grooming Denial? Ini Kata Spesialis Kedokteran Jiwa

agn | Insertlive
Selasa, 13 Jan 2026 15:30 WIB
Heboh Broken Strings Aurelie, Pelaku Grooming Denial? Ini Kata Spesialis Kedokteran Jiwa Heboh Broken Strings Aurelie, Pelaku Grooming Denial? Ini Kata Spesialis Kedokteran Jiwa/Foto: Instagram
Jakarta, Insertlive -

Media sosial dihebohkan dengan memoar Broken Strings yang dibuat oleh Aurelie Moeremans. Buku itu berisi pengalaman nyata Aurelie yang pernah mengalami child grooming pada usia 15 tahun.

Child grooming adalah proses di mana orang dewasa atau seseorang yang jauh lebih tua membangun hubungan dengan anak yang lebih kecil untuk tujuan eksploitasi hingga pelecehan seksual. Pelaku membentuk manipulasi psikologis dan membangun kepercayaan pada korban untuk melancarkan tujuannya.

Usai memoar Aurelie viral, banyak masyarakat yang turut membagikan kisah serupa di media sosial. Mereka menyebut para pelaku child grooming umumnya denial dengan apa yang sudah dilakukan. Para pelaku juga disebut suka marah secara meledak-ledak.

ADVERTISEMENT

Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren mengatakan penyangkalan dan luapan emosi dari para pelaku grooming adalah hasil dari defense mechanism, kurang empati dan rasa ingin mengontrol sesuatu.

"Ini pola psikologis yang cukup konsisten," ucap dr Lahargo dalam laporan dari detikcom.

Dokter Lahargo menambahkan para pelaku child grooming juga memiliki pola psikologi, sebagai berikut:

1. Defense mechanism (mekanisme pertahanan diri)

Pelaku cenderung menyangkal agar:

  • Tidak merasa bersalah
  • Tidak runtuh harga dirinya
  • Tidak menghadapi kenyataan bahwa ia melukai orang lain

2. Cognitive Dissonance

Ini adalah kondisi psikologis tidak nyaman akibat memiliki dua atau lebih keyakinan


"Ada konflik antara 'saya orang baik' vs 'saya menyakiti orang'," ucap dr Lahargo.

Agar konflik ini tidak menyakitkan, otak memilih untuk:

  • Menyangkal fakta
  • Menyalahkan korban
  • Marah saat dikonfrontasi

3. Kontrol dan Kekuasaan

Grooming adalah tentang power atau kekuatan. Saat kontrol itu terancam (dibongkar publik), pelaku akan mengalami hal-hal berikut:

  • Panik
  • Marah
  • Meledak-ledak karena kehilangan posisi dominan.

4. Minim Empati Terhadap Dampak

Pelaku child grooming akan lebih fokus pada dirinya sendiri, bukan luka korban.

"Marahnya pelaku bukan tanda ia benar, tapi tanda mekanisme pertahanannya sedang runtuh," katanya.

(agn/fik)
Tonton juga video berikut:

ARTIKEL TERKAIT

snap logo
SNAP! adalah kanal video vertikal yang menyajikan konten infotainment singkat, cepat, dan visual. SNAP! menghadirkan cuplikan selebriti, tren viral, hingga highlight interview.
LEBIH LANJUT
Loading
Loading
BACA JUGA
UPCOMING EVENTS Lebih lanjut
detikNetwork
VIDEO
TERKAIT
Loading
POPULER