9 Sikap Parenting Modern Ini Ternyata Bikin Anak Kurang Bahagia Menurut Psikologi
9 Sikap Parenting Modern Ini Ternyata Bikin Anak Kurang Bahagia Menurut Psikologi (Foto: Freepik)
Teknik pola asuh yang tepat mengambil peran penting dalam pembentukan psikologis dan emosional anak. Setiap anak memiliki kecocokan teknik parenting yang berbeda-beda. Teknik parenting tersebut juga harus disesuaikan dengan umur anak dan perkembangan zaman.
Pola asuh yang tidak sesuai bisa mengganggu proses pembentukan karakter anak dan membuat anak merasa tidak bahagia. Tidak menutup kemungkinan bahwa teknik parenting yang dinilai tepat justru tidak sesuai saat diterapkan ke buah hati.
Dari sudut pandang psikologis, beberapa pola asuh modern ini ternyata bikin anak kurang bahagia. Simak informasinya berikut ini.
1. Menjadi Strict Parents
Strict parents adalah sebutan bagi orang tua yang menerapkan pola asuh dengan berbagai aturan dan pembatasan yang ketat kepada anak. Biasanya, pola asuh ini diterapkan agar anak menjadi lebih patuh. Meski dapat membuat anak memiliki kedisiplinan tinggi, pola asuh ini dapat berdampak buruk pada pembentukan karakter anak bila tidak disertai dengan komunikasi dua arah yang baik.
Anak yang tumbuh dengan pola asuh strict cenderung menjadi pribadi yang sulit berekspresi. Sikap ini juga dapat membatasi anak untuk mempelajari hal baru. Biasanya akan muncul rasa takut yang besar dan kekhawatiran terhadap kemungkinan akan dimarahi jika tidak berperilaku sesuai dengan kehendak orang tua. Ketakutan tersebut justru dapat memicu anak untuk selalu menyembunyikan sifat aslinya dari orang tua.
2. Menuntut Terlalu Tinggi
Menaruh ekspektasi tinggi pada sang buah hati merupakan hal lumrah yang dirasakan setiap orang tua. Namun, sikap ini dapat membuat anak merasa tertekan jika dilakukan secara berlebihan, misalnya orang tua yang selalu menuntut anak untuk selalu sempurna tanpa mempertimbangkan usaha mereka.
Sikap ini dapat memicu rasa cemas yang berlebihan akan kegagalan. Sebaiknya, tetap apresiasi dan hargai segala usaha anak agar mereka terus termotivasi untuk berkembang.
3. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Banyak orang tua yang kerap membandingkan pencapaian anak dengan teman sepantarannya. Tujuannya agar anak dapat membedakan antara pribadi yang baik dan buruk setelah diberi contoh. Tak jarang sejumlah orang tua juga membandingkan prestasi anaknya dengan orang lain agar sang anak termotivasi untuk memiliki pencapaian yang serupa.
Sikap ini dapat berjalan efektif apabila disertai dengan arahan dan solusi nyata dari orang tua. Jika dilakukan setiap waktu, anak justru dapat meragukan kemampuannya sendiri. Akibatnya, anak tumbuh menjadi kurang percaya diri.
4. Penuh Kritik pada Anak
Pada dasarnya, anak tak akan lepas dari kesalahan ketika memasuki tahap belajar. Meski tingkah laku mereka selalu bikin geleng-geleng kepala, bukan berarti orang tua dapat selalu mengkritik anak atas setiap kesalahan yang mereka perbuat. Apalagi jika dilakukan secara berlebihan, misalnya dengan kata-kata kasar dan bentakan yang keras.
Pasalnya, kritik berlebihan dapat menciptakan rasa takut berlebihan pada anak. Kondisi ini juga berpotensi menciptakan hubungan yang tidak baik pada anak. Bantulah anak belajar dengan memberikan kritik positif yang membangun.
5. Kurang Komunikasi pada Anak
Komunikasi merupakan kunci hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Ciptakan ruang aman pada anak untuk mengekspresikan perasaannya kepada orang tua. Selain memberi perintah, orang tua juga perlu mendengarkan pendapat anak agar mereka merasa dihargai dan tidak kesepian.
Kurang komunikasi dapat memicu konflik yang berujung pada hubungan yang tidak harmonis pada anak. Luangkanlah waktu sejenak untuk berbicara dengan anak. Beri mereka kesempatan untuk berbicara dan berikan dukungan emosional agar anak lebih bahagia.
6. Kurang Menghargai Privasi Anak
Tak hanya orang dewasa, anak juga memiliki ruang pribadi mereka yang harus dihormati. Pengawasan yang berlebihan dapat membuat anak kesulitan dalam mengeksplorasi perasaan mereka secara mandiri. Penting bagi orang tua untuk menjaga keseimbangan antara menghargai privasi anak dan tetap mengawasi keselamatan serta keamanan mereka.
Tetapkan batasan-batasan privasi pada anak dengan menentukan hal yang benar-benar harus orang tua ketahui dan tidak perlu diketahui. Misalnya, ketahui kemana mereka akan pergi dengan temannya. Namun, orang tua tidak perlu tahu topik yang mereka bicarakan dengan teman-temannya.
7. Mengabaikan Perasaan Anak
Anak sering kali kesulitan dalam mengendalikan emosinya karena kekurangan pengalaman dalam mengelola perasaan. Emosi anak bisa berubah-ubah pada saat yang tidak dapat ditebak. Di sini, peran orang tua sangat penting dalam memenuhi kebutuhan emosional mereka.
Banyak yang mengira dengan mengabaikan emosi anak dapat membuat mereka lebih mandiri secara emosional. Padahal, sikap tersebut justru membuat anak sulit memahami perasaannya sendiri.
8. Tidak Menjadi Panutan yang Baik
Secara alami, anak belajar tentang dunia dengan mengamati dan meniru segala sesuatu di sekitarnya. Orang tua merupakan figur utama yang menjadi pedoman anak dalam mempelajari perilaku. Sayangnya, beberapa orang tua justru kelepasan saat berperilaku di depan anak.
Sikap negatif yang dilakukan orang tua dapat ditiru oleh anak, misalnya berbicara dengan kata-kata yang tidak pantas di depan mereka. Perilaku ini berpotensi ditiru anak ketika berinteraksi dengan orang lain.
9. Terlalu Memanjakan Anak
Setiap orang tua tentu sayang pada buah hatinya. Namun, beberapa orang tua menunjukkan rasa kasih sayang yang berlebihan dengan selalu memanjakan anak. Orang tua harus berhati-hati karena sikap ini justru dapat membuat anak menjadi kurang mandiri.
Anak yang selalu dimanjakan akan selalu merasa bergantung kepada orang tuanya. Perasaan ini muncul karena anak yakin jika segala kebutuhan mereka akan selalu terpenuhi oleh orang tuanya. Ajarkan anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab dengan membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
(asr/fik)
9 Sikap Parenting yang Ternyata Bisa Pengaruhi Psikologi Anak
Senin, 29 Dec 2025 17:15 WIB
Penelitian Terbaru: Ternyata Ibu Lebih Besar Wariskan Kecerdasan ke Anak
Kamis, 11 Dec 2025 17:15 WIB
Apa Itu Peer Parenting Education? Ini Manfaatnya Menurut Psikolog
Kamis, 09 Oct 2025 11:34 WIB
Anak Laki-laki Suka Main Boneka, Orang Tua Perlu Khawatir atau Tidak?
Rabu, 06 Aug 2025 20:15 WIB
Terpopuler: Fakta Anak Angkat Ridwan Kamil hingga Zodiak Pemendam Masalah
Selasa, 06 Jan 2026 07:00 WIB
Terlalu Keras Mendidik Anak, Jackie Chan Selalu Marah Setiap Kali Bertemu
Minggu, 04 Jan 2026 22:00 WIB
Tantangan Denada Sebagai Single Parent Hadapi Fase Aisha Beranjak Remaja
Minggu, 04 Jan 2026 20:00 WIBTERKAIT