Pakar dari ITB Ungkap Penyebab Banjir Bandang di Sumatera
Pakar dari ITB Ungkap Penyebab Banjir Bandang di Sumatera / Foto: Banjir yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatra Utara. (dok.BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah)
Indonesia tengah berduka di tengah bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Utara.
Hingga Sabtu (29/11) sore, data korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Utara telah mencapai 303 orang menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Lantas, apa penyebab banjir bandang dan longsor di Sumatera? Berikut penjelasan para pakar dari Institut Teknologi Bandung.
Curah Hujan
Pakar metereologi dan dosen dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Muhammad Rais Abdillah S Si, M Sc, menjelaskan penyebab utama banjir di Sumatera adalah curah hujan yang tinggi. Saat ini, Sumatera juga tengah berada pada puncak musim hujan.
"Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan, karena Sumatera bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini berada pada puncaknya," jelas Dr. Muhammad Rais Abdillah, dikutip dari laman resmi ITB.
Rais juga menyoroti sirkulasi siklonik di Sumatera bagian utara, yang menyebabkan curah hujan semakin parah. Kondisi tersebut kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di sekitar Selat Malaka yang bertiup ke arah barat.
"Pada tanggal 24 November sudah mulai terlihat adanya sistem yang berputar dari Semenanjung Malaysia. Dalam meteorologi, kita menyebutnya sebagai vortex, meskipun saat itu masih berupa bibit dan matanya belum terlihat jelas," paparnya.
Meski tak sekuat yang terjadi di Samudera Pasifik dan Hindia, siklon tersebut tetap berpotensi mendorong pembentukan awan hujan. Selain itu, fenomena atmosfer skala meso dan sinoptik juga memengaruhi pembentukan awan hujan.
Daya Tampung Wilayah
Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr Heri Andreas ST MT menyebutkan daya tampung wilayah yang semakin menurun juga menjadi salah satu penyebab banjir bandang di Sumatera.
"Saat presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah," jelasnya.
Menurutnya, kapasitas resapan air menurun setelah kawasan hutan banyak dialih fungsikan menjadi perkebunan dan pemukiman.
"Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir," kata Hari.
(KHS/KHS)
Gunung Semeru Erupsi, Pemkab Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Seminggu
Kamis, 20 Nov 2025 12:15 WIB
10 Negara Paling Sering Dilanda Badai, Ada yang Dekat dengan Indonesia
Kamis, 25 Sep 2025 19:45 WIB
Isi Ramalan Jayabaya tentang Indonesia di Tahun 2023
Kamis, 22 Dec 2022 17:40 WIB
Cara Mudah Hadapi Gempa Bumi Tanpa Panik
Kamis, 15 Dec 2022 13:00 WIB
Wali Kota Sibolga yang Hilang Kontak Ditemukan, 4 Hari Jalan Kaki Terjang Banjir
Sabtu, 29 Nov 2025 14:20 WIB
04:40
RUMPI NO SECRET
Tangis Histeris Warga Sumatera Akibat Banjir Bandang Dahsyat
Sabtu, 29 Nov 2025 15:00 WIB
Makin Gemar Membaca, Minat Baca Gen Z Tembus 76 Persen
Sabtu, 29 Nov 2025 22:15 WIBTERKAIT