Puasa Asyura 2026: Jadwal, Niat, Keutamaan, dan Hubungannya dengan Puasa Tasua
Puasa Asyura merupakan salah satu ibadah sunah yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah. Meski tidak wajib, amalan ini memiliki banyak keutamaan yang dijanjikan bagi umat Islam yang menjalankannya.
Dalam sejumlah hadis, bulan Muharram bahkan disebut sebagai bulan terbaik untuk berpuasa setelah Ramadan. Rasulullah saw. bersabda:
"Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa bulan Muharram dan sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam," (HR Ibnu Majah, Abu Dawud, Nasa'i, Tirmidzi, dan Ahmad).
Selain itu, Rasulullah saw. juga menganjurkan pelaksanaan puasa Asyura yang disertai puasa pada hari sebelumnya. Dalam sebuah hadis disebutkan:
"Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan niscaya aku akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10," (HR Al Khallal dengan sanad yang bagus dan dipakai hujjah oleh Ahmad).
Kapan Puasa Asyura 2026?
Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, 10 Muharram 1448 H jatuh pada Kamis, 25 Juni 2026. Dengan demikian, terhitung sejak Jumat, 19 Juni 2026, pelaksanaan puasa Asyura tinggal enam hari lagi.
Niat Puasa Asyura
Berikut bacaan niat puasa Asyura sebagaimana dikutip dari buku Panduan Muslim Sehari-hari karya Hamdan Rasyid dan Saiful Hadi El Sutha:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَأَ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yauma 'asyûra-a sunnata-lillâhi ta'âla.
Artinya:
"Saya berniat puasa Asyura sunah karena Allah Ta'ala."
Keutamaan Puasa Asyura
Puasa Asyura dikenal memiliki banyak keutamaan. Dalam kitab Fadha'ilul Auqat karya Imam Baihaqi yang diterjemahkan Muflih Kamil, disebutkan berbagai pahala besar bagi mereka yang menjalankan puasa ini.
Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura akan mendapatkan pahala yang sangat besar, mulai dari pahala ibadah puluhan tahun, pahala ribuan malaikat, hingga ganjaran yang disamakan dengan pahala haji, umrah, dan syuhada. Hadis ini juga menyebutkan keutamaan memberi perhatian kepada anak yatim pada hari Asyura.
Selain itu, salah satu keutamaan yang paling populer adalah dihapuskannya dosa-dosa setahun yang lalu. Hal ini berdasarkan hadis dari Abu Qatadah Al Anshari r.a.:
"Nabi saw. ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, 'Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.' Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, 'Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.'" (HR Muslim)
Apakah Puasa Asyura Harus Didahului Puasa Tasua?
Puasa Asyura umumnya dilaksanakan bersamaan dengan puasa Tasua yang jatuh pada 9 Muharram. Banyak umat Islam menjalankan kedua puasa tersebut secara berurutan.
Meski demikian, muncul pertanyaan apakah puasa Asyura harus didahului Tasua atau boleh dilakukan sendiri. Para ulama pada umumnya menganjurkan agar puasa Asyura disertai puasa Tasua sebagai bentuk mengikuti sunah Rasulullah saw.
Anjuran tersebut merujuk pada hadis Nabi yang mendorong umat Islam untuk berpuasa pada 10 Muharram dan menambah puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya. Tujuannya adalah untuk membedakan praktik ibadah umat Islam dengan tradisi orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Dalam penjelasan Syarah Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi yang disyarah Musthafa Dib al-Bugha, disebutkan bahwa puasa Tasua menjadi pembeda karena orang Yahudi hanya berpuasa pada hari Asyura. Hari tersebut diperingati sebagai momen ketika Nabi Musa a.s. dan kaumnya diselamatkan oleh Allah Swt., sementara Firaun beserta pengikutnya ditenggelamkan.
Karena itu, meskipun puasa Asyura tetap sah dan berpahala jika dikerjakan sendiri, menggabungkannya dengan puasa Tasua dinilai lebih utama sesuai anjuran Rasulullah saw.
(kpr/and)