Kapan Waktu Terbaik untuk BAB? Ini Kata Ahli Gastroenterologi
Buang air besar atau BAB merupakan proses alami yang menjadi bagian penting dari kesehatan pencernaan. Menariknya, ritme dan waktu BAB dapat memberi gambaran tentang kesehatan pencernaan secara keseluruhan.
Para ahli pencernaan menekankan bahwa tubuh memiliki jam biologis yang memengaruhi kapan usus bekerja paling optimal untuk mengeluarkan sisa makanan.
Memahami waktu terbaik untuk BAB bukan hanya membantu menjaga kenyamanan, tetapi juga dapat mencegah masalah seperti sembelit dan gangguan pencernaan lainnya.
Lalu, kapan waktu terbaik untuk BAB menurut ahli?
Menurut ahli gastroenterologi, tidak ada satu waktu pasti yang cocok untuk semua orang. Tubuh kita punya jam biologis sendiri yang disebut ritme sirkadian atau circadian rhythm yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk aktivitas usus.
Dr. Niket Sonpal dalam wawancaranya dengan Eating Well mengatakan bahwa yang jauh lebih penting adalah membangun rutinitas BAB yang konsisten, karena sistem pencernaan manusia bekerja mengikuti ritme sirkadian.
"Yang paling penting adalah konsistensi. Usus bekerja seperti jam biologis, ia suka rutinitas," ujarnya.
Meski begitu, dr. Sonpal menjelaskan bahwa pagi hari sering kali menjadi waktu paling efektif untuk BAB karena beberapa alasan fisiologis, seperti:
- Ritme sirkadian meningkatkan gerakan usus di pagi hari. Bersamaan dengan itu, terjadi lonjakan hormon kortisol yang dapat merangsang pergerakan usus.
- Selama tidur, tubuh 'berpuasa' dan sistem pencernaan relatif tidak aktif. Kondisi ini memungkinkan usus besar untuk mengumpulkan feses.
- Refleks gastrokolik aktif setelah makan, terutama setelah sarapan. Refleks ini merangsang usus besar untuk berkontraksi dan menggerak mengeluarkan isinya yang menyebabkan buang air besar.
Kondisi tersebut membuat banyak orang cenderung lebih mudah BAB setelah bangun tidur atau setelah sarapan pagi.
Selain itu, ada beberapa faktor yang memengaruhi kapan seseorang bisa BAB dengan lancar, di antaranya asupan serat, hidrasi, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta stres. Pola makan yang tidak teratur dan kebiasaan melewatkan sarapan juga dapat mengganggu sinyal alami tubuh.
(KHS/KHS)