Wajib Diwaspadai! Ini Bahaya Kesehatan Sedentary Life yang Mengintai
Gaya hidup sedentary life bisa membahayakan kesehatan tubuh, bahkan dapat menyebabkan gangguan jangka panjang. Oleh karena itu, sedentary life menjadi kebiasaan yang harus dihindari.
Sedentary life alias gaya hidup sedentary sendiri merujuk pada kebiasaan sehari-hari yang minim aktivitas fisik. Hal ini ditandai dengan kebiasaan seseorang untuk menghabiskan waktunya dengan duduk atau berbaring.
Pola hidup ini menyebabkan pembakaran kalori yang sangat rendah di luar waktu tidur. Akibatnya, sedentary life membawa berbagai risiko kesehatan serius yang perlu diwaspadai, mulai dari obesitas hingga penyakit jantung dan diabetes.
Sementara pada gaya hidup modern, pola sedentary life sering terjadi karena tuntutan pekerjaan di meja atau aktivitas hiburan berbasis layar. Individu akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiam diri dengan duduk atau berbaring dan kurang bergerak.
Gerakan yang minim, didukung dengan duduk berlebihan dan waktu layar yang tinggi menjadi tanda seseorang memiliki gaya hidup sedentary life. Gaya hidup ini tentunya memberikan efek yang berbahaya bagi kesehatan, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang.
Bahaya Mengintai Sedentary Life
Gaya hidup minim gerakan ini bisa memicu berbagai masalah kesehatan yang serius dan memberikan dampak panjang. Memahami risiko sedentary life perlu dilakukan untuk mendorong perubahan perilaku.
Salah satu risiko paling umum yang dirasakan dari gaya hidup ini adalah obesitas. Pembakaran kalori yang rendah karena kurangnya aktivitas fisik membuat tubuh cenderung menumpuk kelebihan berat badan.
Obesitas sendiri menjadi pemicu berbagai penyakit kronis lain yang bisa mengganggu fungsi tubuh. Salah satunya adalah penyakit jantung, yang diakibatkan penumpukan plak di arteri, peningkatan tekanan darah, hingga kolesterol tinggi.
Tak hanya itu, sedentary life juga berkaitan erat dengan penyakit diabetes tipe dua. Gerakan yang minim bisa menurunkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, hormon yang mengatur gula darah. Kadar gula darah yang naik bisa mengakibatkan risiko diabetes.
Selain fisik, sedentary life juga bisa berpengaruh buruk terhadap kesehatan mental. Gaya hidup pasif juga bisa berkontribusi terhadap peningkatan risiko depresi dan kecemasan. Pasalnya, aktivitas fisik bisa melepaskan senyawa endorfin yang mampu meningkatkan suasana hati.
Kurang bergerak akan membuat seseorang minim endorfin dan meningkatkan risiko terjadinya depresi dan kecemasan.
Cara Mengatasi Sedentary Life
Meski gaya hidup sedentary umum terjadi di era modern, kondisi ini bisa dilawan dengan menerapkan beberapa kebiasaan sederhana. Kuncinya adalah secara aktif mengintegrasikan gerakan dalam rutinitas harian.
Pencegahan sedentary life bisa dimulai dengan istirahat bergerak secara teratur. Setiap 30 hingga 60 menit, luangkan waktu lima hingga 10 menit untuk berdiri, meregangkan tubuh, atau berjalan singkat. Hal ini bisa mengurangi efek negatif dari duduk terlalu lama.
Aktivitas jalan kaki sehari-hari juga sangat dianjurkan, seperti memilih untuk menggunakan tangga hingga memilih tempat parkir lebih jauh. Secara bertahap, aktivitas ini bisa meningkatkan jumlah gerakan harian.
Latihan fisik teratur juga merupakan komponen penting. Usahakan untuk melakukan olahraga dengan intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu, atau olahraga dengan intensitas tinggi selama 75 menit per minggu.
Menerapkan aktivitas fisik sederhana secara konsisten bisa membantu individu terhindar dari gaya hidup sedentary yang membahayakan.
(asw)