Advertisement

5 Contoh Teks Ceramah Ramadan 2026 Singkat dan Menyentuh

Astrid Riyani Atmaja | Insertlive
Ilustrasi pidato sekolah perpisahan SD TK Paud
5 Contoh Teks Ceramah Ramadan 2026 Singkat dan Menyentuh (Foto: Freepik)
Jakarta -

5 Contoh Teks Ceramah Ramadan 2026 Singkat dan Menyentuh

Bulan Ramadan merupakan momen yang tepat untuk meningkatkan amalan serta menambah pahala sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Swt.. Bulan penuh berkah ini memiliki banyak sekali keistimewaan yang bertepatan dengan berbagai peristiwa penting, seperti malam Lailatul Qadar, turunnya kitab suci Al-Quran, terbukanya pintu-pintu surga, dan terbelenggunya setan-setan.


Untuk memanfaatkan kesempatan tersebut, sepanjang bulan puasa biasanya diisi dengan rangkaian ibadah sunnah, salah satunya dengan salat Tarawih. Tarawih dilaksanakan pada malam hari di bulan suci Ramadan, tepatnya setelah salat Isya. Ibadah ini dapat dilakukan sendiri di rumah maupun secara berjamaah di masjid.


Di Indonesia, pelaksanaan Tarawih secara berjamaah umumnya juga dibarengi dengan ceramah untuk meningkatkan iman, takwa, serta ilmu agama para jamaah. Topik ceramah selama Ramadan biasanya meliputi tentang keutamaan puasa, salat Tarawih, atau pun peristiwa Islam penting lainnya yang berkaitan dengan bulan Ramadan.


Bagi umat Islam yang membutuhkan referensi ceramah, berikut ini kumpulan teks ceramah Ramadan yang dikutip dari laman NU Online yang bisa menjadi pilihan.

Advertisement


Ceramah 1: Meraih Rahmat, Ampunan, dan Surga di Bulan Mulia


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirobbil alamin washolatu wassalamu ala asrofil anbiya wal mursalin Sayyidina wa Maulana Muhammadin wa ala alihi wa shohbihi ajma'in. Amma ba'du.


Para hadirin yang dirahmati Allah Swt.


Sebagai bulan paling istimewa bagi umat Muslim, Ramadan memiliki sejumlah keutamaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan pada umumnya. Oleh sebab itu, jangan sampai kita yang masih diberi nikmat umur panjang dan kesehatan untuk berjumpa bulan idaman ini, menyia-nyiakan begitu saja segala fadhilah yang terdapat di dalamnya.


Untuk meraih macam ragam keutamaan Ramadan, umat Muslim pun berlomba melaksanakan anjuran-anjuran ibadah di dalamnya, mulai dari salat tarawih yang terlihat padat di mushola dan masjid-masjid, tadarus Al-Quran yang terdengar syiar di hampir setiap sudut kota dan desa, sedekah takjil yang biasanya banyak dijumpai di masjid-masjid pinggir jalan, dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan untuk meraih keutamaan bulan suci ini.


Termasuk keutamaan itu, adalah tiga kado istimewa bulan suci Ramadan, yaitu rahmat (kasih sayang Allah), ampunan (maghfirah), dan masuk ke surga-Nya (terbebas dari api neraka), Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu haditsnya:


أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ


Artinya: "Awal Bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (Ibnu Khuzaimah)


Memang, kualitas hadits di atas dhaif (lemah) sebagaimana dijelaskan oleh Imam as-Suyuthi dalam kitabnya, Jami'ul Ahadits. Sebab, hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Sahih-nya dan bersumber dari Ali ibn Zaid ibn Jad'an yang divonis oleh para ulama sebagai orang yang dhaif. Sementara orang yang meriwayatkan hadits tersebut dari Ali ibn Zaid adalah Yusuf bin Ziyad yang divonis dhaif parah (dhaif jiddan). (Imam Suyuthi, Jami'ul Ahadits, t.t. juz 23, h. 176)


Meski demikian, hadits dhaif yang menjelaskan fadha'ilul a'mal (keutamaan amal ibadah) seperti keutamaan bulan puasa di atas, para ulama membolehkan untuk disampaikan ke publik dan diamalkan, selagi tidak berkaitan tentang akidah seperti menjelaskan keesaan Allah atau tentang hukum syariat seperti hukum salat, puasa, dan lain sebagainya.


Para jamaah yang dimuliakan Allah,


Mendapat rahmat atau kasih sayang Allah merupakan sesuatu yang sangat penting dan sebisa mungkin seorang Muslim meraihnya. Sebab, peran rahmat Allah sangat besar bagi seorang hamba di akhirat kelak. Bisa jadi seseorang merupakan hamba yang taat, rajin ibadah, dan lain sebagainya. Akan tetapi, jika tidak mendapat rahmat Allah dan ibadahnya tidak diterima, na'udzubillah, amalnya hanya sia-sia.


Berkaitan dengan ini, penting untuk kita simak kisah seorang hamba taat yang beribadah selama 500 tahun, tapi ia masuk surga bukan karena ibadahnya, melainkan karena rahmat Allah. Kisah ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya.


Pada waktu itu, Malaikat Jibril a.s. bercerita kepada Nabi Muhammad saw., "Hai, Muhammad! Demi Allah yang telah menugaskan engkau menjadi nabi. Allah memiliki seorang hamba yang ahli ibadah. Hamba tersebut hidup dan beribadah selama 500 tahun di atas gunung."


Singkat cerita, hamba itu memohon kepada Allah mencabut nyawanya dalam keadaan sujud dan jasadnya tetap utuh sampai tiba hari kiamat. Doanya dikabulkan. Begitu di akhirat, Allah berkata padanya, "Hamba-Ku, engkau kumasukkan surga berkat Rahmat-Ku!"


Hamba tersebut menyangkal. Seharusnya, protes dia, yang membuatnya masuk surga adalah ibadahnya selama ratusan tahun itu, bukan rahmat Allah. Setelah dihitung, ternyata bobot rahmat-Nya lebih besar daripada amal ibadah tersebut. Allah pun memerintahkan malaikat untuk memasukan dia ke neraka.


Sebelum dimasukkan ke neraka, hamba itu hendak mengakui bahwa rahmat Allah lebih besar dan yang bisa membuatnya masuk surga. Ia pun tidak jadi dimasukkan ke dalam neraka. (Abul Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, t.t, h. 63)


Kisah tersebut turut dipertegas hadits yang diriwayatkan oleh al-Hasan dan dicatat oleh Abul Laits as-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin disebutkan:


دَلَاءُ أُمَّتِي لَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِكَثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ، وَلَكِنْ يَرْحَمُهُمُ اللَّهُ تَعَالَى بِسَلَامَةِ الصُّدُورِ، وَسَخَاوَةِ النَّفْسِ، وَالرَّحْمَةِ لِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ


Artinya: "Para wali abdal dari umatku tidak masuk surga karena banyaknya salat dan puasa, melainkan karena Allah merahmati mereka sebab hati yang bersih, jiwa yang dermawan, dan menyayangi setiap Muslim." (Abul Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, 2016: h. 63)


Demikianlah pentingnya kita memanfaatkan bulan Ramadan ini untuk meraih rahmat Allah. Namun, bukan berarti kita menomorduakan ibadah dengan alasan lebih utama mencari rahmat. Justru dengan ibadah itulah kita menunjukkan ketaatan kepada Allah sehingga menjadi faktor memperoleh rahmat.


Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga Ramadan tahun ini lebih baik dari Ramadan-ramadan sebelumnya. Wallahu a'lam.


Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.


Ceramah 2: Amalan Spesial di Bulan Suci


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Bismillahirahmanirrahin. Alhamdulillahi washsholatu wassalaamu 'alaa rasulillah wa'alaa aalihi wa sohbihi wa maw waalaah.


Hadirin yang mulia dan dirahmati Allah. Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Muslim karena penuh dengan keberkahan dan ampunan. Salah satu keutamaannya adalah pahala ibadah yang dilipatgandakan dibandingkan bulan lainnya.


Setiap amal kebaikan yang dilakukan, seperti membaca Al-Quran, i'tikaf, dan sedekah, mendapatkan balasan lebih besar dari Allah Swt.. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw. pernah bersabda:


إِنَّ أُمَّتِي لَمْ يَخِزُّوا مَا أَقَامُوا شَهْرَ رَمَضَانَ. قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا خَزِيُهُمْ فِي إِضَاعَةِ شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: إِنْتِهَاكُ الْمَحَارِمِ فِيهِ مِنْ زِنًا فِيهِ أَوْ شَرِبَ فِيهِ خَمْرًا لَعَنَهُ اللَّهُ وَمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ إِلَى مِثْلِهِ مِنَ الْحَوْلِ. فَإِنْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ رَمَضَانُ، لَمْ تَبْقَ لَهُ عِندَ اللَّهِ حَسَنَةٌ يَتَّقِي بِهَا النَّارَ. فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ مَا لَا تُضَاعَفُ فِيمَا سِوَاهُ وَكَذَٰلِكَ السَّيِّئَاتُ


Artinya, "Sesungguhnya umatku tidak akan celaka selama mereka menjaga bulan Ramadan." Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan celaka dalam menyia-nyiakan bulan Ramadan?" Beliau menjawab, "Yaitu melanggar larangan Allah di dalamnya, seperti berzina atau meminum khamr. "Barang siapa melakukannya, ia akan dilaknat oleh Allah dan para penghuni langit hingga setahun penuh. Jika ia meninggal sebelum sempat bertemu Ramadan berikutnya, maka ia tidak memiliki kebaikan di sisi Allah yang dapat melindunginya dari neraka. Maka, jagalah bulan Ramadan, karena di dalamnya pahala kebaikan dilipatgandakan lebih dari bulan lain, begitu pula dosa-dosa." (HR At-Thabarani).


Hadis ini secara tegas menyampaikan bahwa pahala amal ibadah selama bulan Ramadan akan dilipatgandakan, demikian juga berlaku bagi balasan dosa yang kita perbuat. Adapun ibadah yang bisa kita amalkan selama bulan suci Ramadan, yaitu:


1. Makan Sahur


Selain sebagai sumber energi untuk berpuasa di siang hari selama bulan Ramadan, sahur juga merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Waktu terbaik untuk sahur adalah di akhir malam, asalkan tidak memasuki waktu yang meragukan, yaitu antara masih malam atau sudah terbit fajar.


Dengan melaksanakan sahur, seorang Muslim tidak hanya mendapatkan kekuatan fisik untuk menjalani puasa, tetapi juga memperoleh keberkahan sebagaimana dianjurkan dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda:


لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الْفِطْرَ


Artinya: "Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka." (HR Ahmad).


2. Berbuka Puasa dengan Kurma


Salah satu anjuran saat berbuka puasa adalah mengawalinya dengan makan buah kurma sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.. Dalam tinjauan medis, kurma mengandung gula alami yang cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Jika tidak tersedia, alternatif lain yang dianjurkan adalah berbuka dengan air.


Nabi saw. bersabda:


إِذَا أفْطَرَ أحَدُكُمْ، فَلْيُفْطرْ عَلَى تَمْرٍ فَإنَّهُ بَرَكةٌ، فَإنْ لَمْ يَجِدْ تَمْراً، فالمَاءُ فَإنَّهُ طَهُورٌ


Artinya: "Jika salah seorang dari kalian hendak berbuka, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah. Jika tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih." (HR At-Tirmidzi).


3. Membaca Doa saat Berbuka


Makanan yang kita santap saat berbuka puasa merupakan nikmat dari Allah Swt. yang luar biasa dan penuh dengan keberkahan. Karena itu, berdoa pada momen ini menjadi anjuran tersendiri bahkan reaksi doanya tidak seperti doa makan pada umumnya. Berikut adalah bacaan doa yang dianjurkan khusus saat menjelang berbuka:


اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلَتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ. يَا وَاسِعَ الْفَضْلِ اِغْفِرْ لِي. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ


Artinya: "Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dengan rezeki-Mu aku berbuka, kepada-Mu aku bertawakal. Telah hilang dahagaku, telah basah tenggorokanku, dan pahala pun telah tetap, jika Allah menghendaki. Wahai Dzat yang Maha Luas karunia-Nya, ampunilah aku. Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepadaku sehingga aku berpuasa, dan memberi rezeki kepadaku sehingga aku berbuka."


Bisa juga membaca doa yang lebih masyhur berikut:


اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Artinya" "Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, waahi Tuhan yang Maha Pengasih di antara semua pengasih."


4. Menjaga Lisan


Berpuasa memang sah selama kita sudah niat saat malam hari dan menahan diri dari makan dan minum dari waktu terbit fajar hingga maghrib tiba. Akan tetapi untuk mempertahankan pahala puasa tersebut, tidak cukup dengan dua hal itu. Salah satu upaya untuk menjaga agar pahala puasa tetap utuh adalah dengan menjaga lisan dari ucapan buruk. Nabi Muhammad saw. pernah bersabda:


مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ


Artinya: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan melakukannya, maka Allah tidak butuh jika ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR Al-Bukhari).


5. Menjaga Etika Berpuasa


Ibadah yang sempurna adalah ibadah yang dilaksanakan dengan menjaga etika atau adab-adabnya. Begitu pula dalam berpuasa, kita dianjurkan untuk memperhatikan etika berpuasa, seperti tidak menghabiskan waktu siang hanya untuk tidur, tidak makan berlebihan saat berbuka, serta menghindari aktivitas yang tidak bernilai ibadah. Jangan sampai Ramadan yang penuh dengan keutamaan justru kita lalui sebatas untuk menggugurkan kewajiban.


6. Memperbanyak I'tikaf di Masjid


I'tikaf juga menjadi salah satu anjuran di bulan Ramadan yang diajarkan oleh Nabi saw.. Sebaiknya i'tikaf dilakukan selama satu bulan penuh, tapi jika tidak bisa maka diutamakan 10 hari terakhirnya.


Karena pada hari-hari itu lebih memungkinkan terdapat malam Lailatul Qadar. Dalam hadits, Rasulullah saw. bersabda.


مَنِ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ


Artinya: "Siapa yang telah beri'tikaf bersamaku (di 10 malam pada tengah Ramadan tanggal 11-20) bersamakau, maka beri'tikaflah pada 10 malam terakhir." (HR Ibnu Hibban). (Az-Zarqani, Syarhul Muwattha', [Beirut, Darul Kutub Al-'Ilmiyah: 1411], juz II, halaman 286)


7. Memperbanyak Tadarus Al Quran


Bertadarus Al-Quran juga menjadi salah satu anjuran selama bulan Ramadan. Jika memiliki banyak waktu luang, kita bisa menargetkan selesai 30 juz selama bulan puasa. Menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Bughyatul Insan fi Wadza'ifi Ramadan, dasar anjuran perbanyak baca Al-Quran selama Ramadan adalah hadits berikut:


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ. وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ. فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ


Artinya: "Dari Ibnu Abbas berkata, 'Rasulullah saw. adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadan ketika malaikat Jibril menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah saw. orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus." (HR Al-Bukhari).


Demikianlah sejumlah anjuran ibadah yang bisa kita amalkan selama bulan puasa. Semoga bulan Ramadan tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya kita selalu diberi semangat untuk terus meningkatkan takwa dan beribadah secara istiqamah. Amin.


Wassalamualaikum warhmatullahi wabarokatuh


Ceramah 3: Menilik Puasa dan Media Sosial

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirobbil alamin washolatu wassalamu ala asrofil anbiya wal mursalin Sayyidina wa Maulana Muhammadin wa ala alihi wa shohbihi ajma'in. Amma ba'du.


Hadirin jamaah yang dirahmati Allah.


Ramadan, bulan suci yang penuh berkah, merupakan waktu yang tepat untuk diisi dengan ibadah, introspeksi, dan refleksi. Namun, seiring perkembangan teknologi modern saat ini, kemudahan akses internet dan media sosial membawa tantangan baru bagi kita untuk tetap mempertahankan kualitas puasa.


Meskipun teknologi memberikan manfaat besar dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam memperluas pengetahuan dan komunikasi, namun penggunaan yang tidak bijaksana dapat membawa dampak negatif yang serius terhadap kualitas puasa Ramadan.


Dalam kultum kali ini, kita akan membahas bagaimana kemudahan teknologi di internet dan media sosial dapat mengancam kualitas puasa kita, terutama dalam hal kemaksiatan, bertengkar, ujaran kebencian dan juga bermalas-malasan .Kita harus mengingat hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitab Al-Muwatha':


الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا: فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَجْهَلْ، فَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ، أَوْ شَاتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ


Artinya: "Puasa itu adalah perisai, jika salah satu dari kalian sedang berpuasa, maka jangan sampai berkata kotor dan jangan pula bertingkah laku jahil (sombong, suka mengejek, atau bertengkar). Jika ada orang lain yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka hendaklah dia mengatakan: aku sedang puasa, aku sedang puasa" (HR. Imam Malik).


Salah satu dampak negatif dari kemudahan teknologi di internet dan media sosial adalah meningkatnya paparan terhadap konten-konten negatif dan kemaksiatan. Di dunia maya, akses tak terbatas ke berbagai jenis konten membuat orang rentan terhadap godaan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, termasuk selama bulan suci Ramadan.


Misalnya, mudahnya akses ke situs-situs web yang berisi konten pornografi atau kekerasan yang dapat menggoda seseorang untuk melanggar aturan-aturan puasa dengan melakukan hal-hal terlarang tersebut. Selain itu, media sosial juga menjadi platform yang memudahkan penyebaran informasi yang tidak sesuai dengan ajaran agama.


Konten-konten negatif seperti fitnah, gosip, dan pemikiran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam dapat dengan mudah tersebar luas. Hal ini tentu bisa mempengaruhi pikiran dan perilaku kita, terutama selama bulan Ramadan ketika spiritualitas diri sedang ditingkatkan.


Dalam dunia media sosial yang luas, peluang untuk adu argumen yang mengarah kepada saling menyerang dan mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang tidak patut juga semakin tinggi. Orang dengan mudahnya mengumpat, menulis kata-kata kotor tanpa etika kepada siapapun termasuk kepada orang-orang yang lebih tua yang seharusnya kia hormati. Dalam Al-Quran surat Qaf ayat 28:


قَالَ لَا تَخْتَصِمُوْا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ اِلَيْكُمْ بِالْوَعِيْدِ


Artinya: "(Allah) berfirman, "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, dan sungguh, dahulu Aku telah memberikan ancaman kepadamu."


Selain kemaksiatan, kemudahan teknologi juga dapat menyebabkan perilaku bermalas-malasan dan pemborosan waktu yang merugikan dalam menjalankan ibadah selama Ramadan. Akses yang mudah ke berbagai aplikasi dan platform media sosial dapat menghabiskan waktu yang berharga yang seharusnya dialokasikan untuk ibadah dan introspeksi diri.


Seringkali, orang dapat terjebak dalam siklus menghabiskan waktu yang tidak produktif di media sosial, yang menghalangi mereka untuk memanfaatkan bulan Ramadan sebaik mungkin. Memang nyata, media sosial sangat melenakan. Tanpa terasa, waktu berjalan cepat saat kita memegang smartphone dan berselancar di dunia maya. Semua yang kita inginkan bisa diakses dengan mudahnya.


Meskipun tantangan yang dihadapi akibat kemudahan teknologi di internet dan media sosial cukup besar, namun ada beberapa langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi dampak negatif tersebut.


Pertama, kita harus memiliki kesadaran yang tinggi.


Penting bagi kita untuk menyadari potensi bahaya dan dampak negatif dari penggunaan yang tidak bijaksana terhadap teknologi di internet dan media sosial. Dengan memiliki kesadaran yang tinggi, kita dapat lebih waspada dan berhati-hati dalam menggunakan teknologi tersebut selama bulan Ramadan.


Kedua, kita harus membatasi waktu online.


Menetapkan batasan waktu untuk menggunakan internet dan media sosial dapat membantu mengurangi risiko pemborosan waktu dan bermalas-malasan. Misalnya, mengatur jadwal khusus untuk memeriksa email atau memeriksa media sosial hanya pada waktu-waktu tertentu selama hari.


Ketiga, memilih konten yang bermutu.


Saat menggunakan internet, penting untuk memilih konten-konten yang bermanfaat dan bermutu, seperti kuliah agama, ceramah, atau literatur Islami. Menghindari konten-konten negatif dan berpotensi merusak iman adalah langkah penting untuk menjaga kesucian bulan Ramadan.


Keempat, meningkatkan koneksi spiritual.


Selama bulan Ramadan, penting untuk meningkatkan koneksi spiritual dengan melakukan lebih banyak ibadah, membaca Al-Quran, dan merenungkan makna puasa. Memperkuat koneksi spiritual ini dapat membantu seseorang untuk tetap teguh dan menghindari godaan yang muncul melalui teknologi di internet dan media sosial. Dengan mengambil langkah-langkah pencegahan ini dan tetap menjaga kualitas ibadah selama bulan Ramadan, kita dapat menghindari dampak negatif dari kemudahan teknologi di internet dan media sosial.


Sebagai umat Islam, penting bagi kita untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai waktu untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt., serta menghindari godaan yang dapat menghalangi kita dari mencapai tujuan tersebut.


Mari raih 'obral' pahala di bulan Ramadan dan hindari dosa besar akibat kelalaian kita.


مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ


Artinya: "Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)" (QS. Al-An'am: 160)


Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kesabaran untuk menjalani ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan keteguhan hati selama bulan yang suci ini. Aamiin.


Ceramah 4: Keberkahan Sahur dan Buka Puasa yang Tidak Boleh Dilewatkan


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh


Bismillahirahmanirrahin, Alhamdulillahi washsholatu wassalaamu 'alaa rasulillah wa'alaa aalihi wa sohbihi wa maw waalaah.


Jamaah yang dirahmati dan dicintai Allah Swt., selain kewajiban menjalankan ibadah puasa, banyak amalan yang dapat kita lakukan untuk mendulang berkah dan pahala di bulan Ramadan. Yang paling masyhur adalah amalan menyegerakan dalam berbuka dan mengakhirkan makan sahur.


Dalam kitab Fathul Qarib, di samping menjaga lisan, kedua amalan tersebut termasuk dalam kesunnahan puasa. Dalam konteks berpuasa, dua amalan ini tidak hanya sekadar menjadi penguat bagi tubuh kita. Tetapi, juga terdapat banyak keutamaan dan keberkahan di dalamnya. Keutamaan untuk menyegerakan dalam berbuka puasa diterangkan dalam sebuah hadits:


لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوااْلفِطْرَ


Artinya: "Manusia selamanya dalam kebaikan, selama ia menyegerakan berbuka puasa" (HR Al-Bukhari dan Muslim)


Maka, bila sudah datang waktu Maghrib segeralah untuk berbuka puasa. Dengan melaksanakan berbuka puasa sebagai penanda berakhirnya ibadah puasa di hari tersebut, kita akan mendapatkan kenikmatan atau kebahagiaan yang hakiki. Bukan hanya kenikmatan, dengan hilang rasa lapar dan dahaga setelah seharian berpuasa, melainkan juga kenikmatan atau kebahagiaan ketika kita bertemu dengan Allah Swt. kelak. Sabda Rasulullah saw.:


لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ


Artinya: "Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-nya." (HR Muttafaq 'Alaihi).


Sudah menjadi respons yang alami, bila kita merasa lapar dan haus saat berpuasa. Maka, sungguh nikmat rasanya ketika kita kemudian diperbolehkan untuk berbuka puasa. Ibarat kata, dengan lauk seadanya pun, makan akan terasa nikmat.


Oleh karenanya, Nabi Muhammad saw. telah memberikan teladan, bagaimana ketika ia berbuka puasa, yakni dengan kurma biasa, dan kalau tidak ditemukannya, Beliau berbuka dengan beberapa teguk dari air putih. Sebagaimana yang telah diriwayatkan Sahabat Anas RA:


يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ اَنْ يُصَلِّيَ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمْرَاتٍ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ


Artinya: "Nabi saw. berbuka puasa dengan beberapa buah kurma sebelum salat. Jika tidak ada kurma, maka dengan beberapa butir kurma kering. Jika tidak ada, maka dengan seteguk air." ( HR Abu Daud dan al-Tirmidzi).


Lakukan berbuka puasa dengan cara sederhana ini, dapat menjadikan kita ikut merasakan bagaimana orang yang hidup menderita karena kelaparan. Betapa banyak di antara saudara-saudara kita, yang setiap harinya telah banyak menahan lapar, bukan karena perintah untuk berpuasa, namun memang sekadar untuk makan saja mereka sulit, karena masalah ekonomi, kemiskinan, dan sebagainya.


Kemudian, selain berbuka puasa, kesunnahan puasa yang telah disebutkan yakni mengakhirkan makan sahur. Makan sahur ini, selain sebagai persiapan menjalankan puasa, juga agar mendapatkan keberkahan. Sebagaimana diterangkan dalam sabda Nabi saw.:


تَسَحَّرُوا فَاِنَّ فِى السُّحُوْرِ بَرَكَةٌ


Artinya: "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terkandung berkah.". (HR Al-Bukhari dan Muslim).


Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Itḥāfu Ahlil Islām bi Khushūshiyyatiṣ Shiyām, keberkahan yang dimaksud pada hadits ini, selain keberkahan berupa kekuatan badan dan semangat dalam menjalankan puasa setelah makan sahur, juga keberkahan, dengan kita meneladani laku hidup Rasulullah saw..


Disebutkan dalam Al-Quran, keberuntungan atau kemenangan akan diberikan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasulullah saw..


وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا


Artinya: "Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar." (QS. Al Ahzab:71).


Selain makan dan minum, dalam waktu menjelang fajar tersebut terdapat banyak keberkahan yang diberikan Allah. Maka, jangan lupakan pula untuk kita mengingat Allah, memohon ampun, serta memanjatkan doa.


يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ


Artinya: "Allah turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, "Siapa saja yang berdo'a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni." (HR Al-Bukhari dan Muslim).


Maka, jangan sia-siakan kedua waktu ini, yakni waktu ketika awal berbuka dan saat sahur. Berbukalah di awal waktu dan bersahurlah di akhir meski hanya dengan seteguk air. Kita raih keutamaan dan keberkahan di dalam kedua waktu tersebut, agar puasa kita menjadi sempurna serta kita mendapatkan banyak pahala dan keberkahan dari Allah. Amin Ya Rabbal Alamin.


Demikian ceramah pada malam tarawih kali ini. Semoga kita semua senantiasa diberi kelancaran serta kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa.


Wassalamualaikum warhmatullahi wabarokatuh.


Ceramah 5: Mendekatkan Diri kepada Allah dengan I’tikaf


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Was sholatu wassalamu 'ala, asyrofil ambiyaa iwal mursalin. Wa a'laa alihi wa sahbihi ajmain amma ba'du.


Jamaah tarawih yang berbahagia. I'tikaf adalah amalan yang dianjurkan selama bulan Ramadan, terlebih di sepuluh malam terakhir. Secara harfiah, I'tikaf berarti "berdiam diri" di masjid dengan niat khusus untuk beribadah. Secara etimologi, ibadah ini mengandung makna berdiam diri atau mengabdikan diri terhadap sesuatu, yang dalam bahasa Arab disebut al-lubtsu atau 'akafa ala syai'.


Praktik I'tikaf adalah menetap di dalam masjid dengan tujuan mengabdikan diri kepada Allah Swt.. Imam Syafi'i berkata:


والاعتكاف لزومُ المَرْءِ شيئاً ، وحَبْسُ نفسه عليه ، براً كان أوإثماً


Artinya: "I'tikaf adalah seseorang yang berdiam diri di suatu tempat, dan mengurung dirinya di sana, baik untuk kebaikan maupun keburukan." (Abi Husain al-'Imrani asy-Syafi'i, al-Bayan fi Mazhab al-Imam Asy-Syafi'i, [Kairo; Darul Minhaj, tt], Jilid III, halaman 571)


Mengapa i'tikaf banyak dilaksanakan di 10 malam terakhir Ramadan? karena pada periode ini terdapat malam Lailatul Qadar, sebuah malam yang lebih mulia daripada seribu bulan, dan merupakan kesempatan istimewa untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendapatkan pahala yang berlimpah.


Rasulullah saw. sendiri senantiasa beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah RA. Beliau beri'tikaf untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan berharap dapat meraih malam Lailatul Qadar.


أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ كانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِن رَمَضَانَ، حتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِن بَعْدِهِ


Artinya: "Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. beri’tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah wafatnya beliau." Ibadah i'tikaf disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 187. Allah berfirman:


وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ


Artinya: "Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beri'tikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa."


Umat Islam lebih dari sekadar mengasingkan diri, i'tikaf merupakan bentuk pengabdian yang mendalam kepada Allah Swt.. Melalui i'tikaf, umat Islam berdiam diri di masjid dengan tujuan untuk memperdalam hubungan spiritual mereka dengan Allah Swt..


Masjid menjadi tempat yang hening dan kondusif untuk beribadah, terhindar dari gangguan dunia luar. Selama i'tikaf, umat Muslim diberikan kesempatan untuk fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.. Suasana masjid yang tenang dan suci menjadi lingkungan yang kondusif untuk memperbanyak doa, membaca Al-Quran, dan berdzikir.


Selain itu, umat Islam yang sedang i'tikaf juga bisa mengikuti kajian keagamaan atau berdiskusi tentang ilmu agama bersama jamaah masjid lainnya. Dengan fokus beribadah dan menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa di bulan Ramadan, diharapkan umat Islam dapat meraih pahala yang berlimpah dan meningkatkan keimanan mereka.


I'tikaf juga menjadi sarana untuk introspeksi diri dan merenungkan kehidupan. Setelah selesai menjalankan i'tikaf, diharapkan umat Islam dapat membawa semangat dan pengalaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sejatinya, i'tikaf memberikan kesempatan pada seseorang untuk merenungkan makna puasa secara lebih mendalam.


Dengan keheningan dan fokus pada ibadah, mereka diajak untuk introspeksi diri dan mensyukuri nikmat yang Allah berikan. I'tikaf juga menjadi sarana untuk memperkuat ikatan batin dengan Allah, Sang Pencipta. Para Muslim yang menjalankan i'tikaf diharapkan bisa meraih ketenangan hati dan kejernihan pikiran.


Terakhir, i'tikaf adalah upaya seorang hamba untuk menahan diri dari godaan dunia, mendorong diri untuk patuh kepada Allah, mengabdikan waktu secara eksklusif untuk ibadah kepada-Nya, serta menjauhkan diri dari perilaku yang diharamkan. Ini melibatkan pengendalian diri terhadap dorongan hawa nafsu, sehingga menghindari perbuatan dosa, membersihkan hati, dan menciptakan sikap zuhud terhadap kenikmatan duniawi.


Itulah ceramah pada malam hari ini. Semoga kita semua senantiasa diberi kelancaran hingga hari terakhir puasa.

Wabillahi taufiq wal hidayah

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.



(Astrid Riyani Atmaja/arm)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement