Muslim di Negara Ini Tidak Wajib Puasa dan Salat, Ini Alasannya
Memasuki bulan suci Ramadan, Allah Swt. mewajibkan seluruh umat muslim untuk menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Selain menahan lapar, puasa juga bertujuan untuk menahan syahwat sekaligus menyadarkan umat manusia bahwa mereka memiliki kelebihan dari segi akal daripada hewan.
Perintah untuk berpuasa selama bulan Ramadan ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183 sebagai berikut:
َٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Selama berpuasa, para umat muslim harus menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga waktu Magrib sekaligus tetap melaksanakan rangkaian ibadah salat lima waktu.
Meski demikian, ternyata ada sebagian umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa dengan cara yang berbeda. Langkah yang tidak umum ini dilakukan oleh komunitas Baye Fall dari negara Senegal.
Berbeda dari umat muslim pada umumnya, komunitas Baye Fall tidak melaksanakan puasa Ramadan maupun salat, yang merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Mereka justru menjadikan kerja dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan.
Menurut keyakinan mereka, segala pekerjaan yang mereka lakukan dengan penuh kerja keras termasuk tindakan meditatif yang mengandung doa dan makna spiritual. Pekerjaan yang dimaksud di sini mencakup pekerjaan fisik dan pengabdian kepada masyarakat, seperti mendirikan koperasi, mengelola kewirausahaan sosial, serta menjalankan organisasi non pemerintah.
Di samping itu, mereka juga memiliki tradisi lain yang bernama saam fall. Dalam tradisi ini, mereka harus menari mengelilingi api unggun selama dua kali dalam seminggu.
Meski begitu, mereka tetap memegang ajaran Islam sebagai pedoman hidupnya. Bahkan, ketika bulan puasa, komunitas Baye Fall menyiapkan makanan untuk umat muslim lainnya di masjid. Mereka menganggap aktivitas tersebut juga termasuk bentuk pengabdian sekaligus ibadah.
Sejarah Kemunculan Komunitas Baye Fall
Baye Fall sendiri merupakan salah satu komunitas Islam di Senegal, negara mayoritas muslim di Afrika Barat. Komunitas ini pertama kali didirikan oleh Syekh Ibrahima Fall, salah satu murid dari ulama terkemuka Afrika Barat yang bernama Amadou Bamba.
Dalam berdakwah, Bamba melandaskan ajarannya pada anjuran dasar syariah secara mendalam. Hal ini membuat ajarannya tidak berfokus pada ibadah salat dan puasa saja, tetapi juga mencakup aspek kehidupan sosial yang lebih luas.
Ajaran ini kemudian tersebar secara masif ke seluruh masyarakat dan Ibrahima adalah salah satu orang yang mempelajarinya. Berbekal ajaran tersebut, ia kemudian mendirikan Baye Fall sebagai upaya menyebarkan ajaran Bamba.
Inilah yang membuat Ibrahima memiliki pandangan yang berbeda. Alih-alih salat lima waktu dan berpuasa, ia justru lebih percaya bahwa bekerja keras dan melakukan pengabdian terhadap masyarakat sudah bisa mengantarkan umat muslim ke surga.
Bahkan, menurut sudut pandang Ibrahima, surga bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan apresiasi bagi para umat yang bekerja keras. Atas dasar tersebut, ia menekankan kepada para pengikutnya untuk senantiasa bekerja keras dalam pekerjaan apapun sebagai bentuk beribadah.
Kemudahan dalam beribadah ini membuat komunitas Baye Fall semakin diminati hingga anggotanya bertambah banyak, yakni sampai menyentuh 17 juta orang.
Di samping besarnya jumlah peminat tersebut, komunitas ini mendapat kecaman dari masyarakat muslim di belahan dunia lain. Pasalnya, ajaran mereka dianggap menyimpang dari syariat Islam. Meski demikian, komunitas ini masih berdiri hingga sekarang dan memberi pandangan baru bahwa agama tidak hanya sebatas makna spiritual, tetapi juga punya peran nyata dalam kehidupan sosial di masyarakat.
(Astrid Riyani Atmaja/dis)