Cerita Jatuh di Panggung JKT48 Waktu 2017 Jadi Awal Mula Tulang Ekor Cesen Patah
Yansen Indiani atau yang akrab disapa Cesen membagikan kondisi kesehatannya yang kini tengah menurun.
Istri Marshel Widianto itu mengungkapkan bahwa gangguan tersebut sebenarnya sudah ia alami sejak lama, tepatnya saat masih aktif sebagai member JKT48 pada 2017.
Cesen menjelaskan bahwa masalah tersebut bermula dari insiden jatuh di atas panggung yang menyebabkan cedera serius pada tulang ekornya.
Namun, saat itu ia tidak langsung menjalani perawatan intensif karena masih terikat kontrak kerja.
"Sakit tulang ekor, jadi dulu waktu 2017 di JKT48 jatuh di panggung, cuman dulu waktu di JKT kan enggak boleh langsung perawatan karena aku masih kontrak juga. Sampai pada dimana aku ke dokter dan dokter ngasih tau ini udah enggak bisa total karena jatuh kan," ujarnya di Pagi Pagi Ambyar, Rabu (11/2).
Seiring waktu, dampak cedera tersebut semakin terasa. Ia bahkan sempat mengalami kondisi yang membuat tubuhnya tidak dapat berfungsi normal.
"Kalau kumat lumpuh lah jadi kayak enggak berfungsi gitu, tiba-tiba jatuh gitu. Akhirnya keluarlah aku dari JKT," katanya.
Cesen mengungkapkan bahwa belakangan ini gejala yang ia rasakan semakin meluas hingga menjalar ke bagian saraf dan leher. Ia juga mengalami kram hebat saat tidur.
"Kebetulan karena baru sekarang ngerasain ternyata udah menjalar sampai leher ke saraf nya. Kemarin yang aku rasain lagi tidur tuh tiba-tiba kram terus mulai kayak orang kejang-kejang," ungkapnya.
Selain itu, tubuhnya kini menjadi sangat sensitif terhadap suhu dingin. Ia mengaku merasa kedinginan secara berlebihan saat berada di tempat umum seperti pusat perbelanjaan.
"Kalau misalnya ke mall kan normal, nah kalau aku dingin banget gitu. Ternyata kata dokter tulang, badan aku alarmnya udah final lah udah enggak bisa aku tahan sakit lagi," tuturnya.
Cesen juga mengenang pernyataan dokter saat pertama kali memeriksakan diri setelah insiden jatuh pada 2017. Ucapan tersebut sempat membuatnya tertekan.
"Jadi dulu waktu tahun 2017 jatuh kan sempat ke dokter, nah cuma ada dokter yang ngomong case nya aku ini ya enggak lama lah, bertahan cuma 3 bulan. Jadi kayak stress jadi aku enggak percaya deh dokter gitu," katanya.
Karena merasa ragu, ia sempat memilih menjalani terapi alternatif seperti fisioterapi secara rutin. Upaya tersebut sempat membantu mengurangi kekambuhan selama sekitar satu tahun.
"Aku jadinya terapi fisioterapi gitu-gitu aja, jadi aku coba dan lumayan ngaruh selama setahun dan udah lumayan jarang kumat. Nah baru sekarang ternyata kumatnya karena udah merembet jadi sering vertigo, migren, jadi mulai curiga kayaknya udah mulai ada yang aneh," jelasnya.
Kini, Cesen harus menjalani pengobatan intensif untuk mengontrol kondisinya. Dokter telah melakukan tindakan medis guna meminimalisir rasa sakit yang ia alami.
"Ini enggak akan bisa hilang, cuman karena kemarin tindakan jadi udah meminimalisir rasa sakitnya. Ada 7 obat minum, setiap hari sampai 9 bulan dan setiap bulannya harus kontrol," tutupnya.
Meski harus menjalani pengobatan panjang, Cesen tetap berusaha kuat menjalani proses pemulihan demi kesehatannya ke depan.
(ikh/ikh)