Advertisement

7 Penyakit yang Banyak Diderita Anak Muda

Steffy Gracia | Insertlive
Wanita Ini Alami 5 Kali Kena Stroke Usai Pijat Kretek, Dokter Beri Peringatan
7 Penyakit yang Banyak Diderita Anak Muda/Foto: Freepik
Jakarta -

Usia muda sering dianggap sebagai fase paling sehat dalam hidup. Tubuh masih tergolong kuat, aktivitas padat, dan energi seolah tak pernah habis. Namun, kenyataannya perubahan gaya hidup, pola makan yang kurang seimbang, hingga tekanan psikologis membuat sejumlah penyakit justru mulai banyak dialami anak muda.

Berikut beberapa penyakit yang cukup banyak diderita anak muda dan perlu diwaspadai sejak dini.

1. Anemia atau Kekurangan Zat Besi

Anemia menjadi salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami anak muda, terutama perempuan. Kondisi ini terjadi saat tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau kadar hemoglobin berada di bawah normal. Akibatnya, suplai oksigen ke jaringan tubuh tidak optimal.

Gejala anemia biasanya berupa tubuh mudah lelah, wajah tampak pucat, sering pusing, dan sulit berkonsentrasi. Jika dibiarkan, anemia dapat menurunkan daya tahan tubuh dan berdampak pada produktivitas sehari-hari. Pola makan rendah zat besi, kebiasaan melewatkan waktu makan, serta diet ekstrem menjadi faktor yang sering memicu kondisi ini.

Advertisement

2. Kurang Energi Kronis dan Gangguan Nutrisi 

Masalah nutrisi tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga memengaruhi fungsi tubuh dan kemampuan kognitif. Pada anak muda, kondisi kurang energi kronis sering ditandai dengan tubuh yang terlalu kurus, mudah lelah, dan sulit fokus.

Gangguan pola makan seperti anoreksia, bulimia, hingga binge eating disorder juga mulai banyak ditemukan. Tekanan citra tubuh, standar kecantikan di media sosial, serta faktor emosional sering menjadi pemicu. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan jangka panjang, termasuk keseimbangan hormon dan kesehatan mental.

3. Obesitas dan Penyakit Metabolik

Di sisi lain, obesitas juga menjadi masalah yang semakin sering dialami anak muda. Tren makanan viral yang tinggi gula, lemak, dan kalori membuat pola makan menjadi tidak terkontrol. Minuman manis, makanan cepat saji, dan camilan tinggi kalori kerap dikonsumsi tanpa diimbangi aktivitas fisik.

Kondisi obesitas ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, gangguan pernapasan, hingga masalah hati. Dampak psikologis seperti kecemasan, rendah diri, dan depresi juga sering menyertai, terutama akibat stigma sosial yang masih kuat.

4. Jerawat dan Skin Breakout

Masalah kulit menjadi keluhan umum di usia muda. Perubahan hormon saat pubertas memang berperan, tapi gaya hidup dan kebiasaan konsumsi produk kecantikan juga turut memengaruhi. Maraknya tren skincare dan makeup di media sosial mendorong banyak anak muda mencoba berbagai produk tanpa memahami kebutuhan kulit masing-masing.

Kebiasaan membeli produk secara impulsif justru berisiko memicu iritasi, jerawat parah, hingga skin breakout. Kurangnya edukasi soal perawatan kulit yang tepat membuat masalah ini sering berulang dan sulit ditangani.

5. Stres dan Depresi

Tekanan akademik, tuntutan prestasi, ekspektasi sosial, hingga perbandingan hidup di media sosial membuat kesehatan mental anak muda semakin rentan. Stres berkepanjangan dapat berkembang menjadi depresi jika tidak ditangani dengan baik.

Gangguan ini kerap ditandai dengan perubahan suasana hati, penurunan motivasi, gangguan tidur, dan menarik diri dari lingkungan sosial. Dukungan keluarga dan lingkungan yang terbuka sangat penting agar masalah kesehatan mental tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

6. Berbagai Bentuk Kecanduan

Perkembangan teknologi yang pesat membuat anak muda lebih rentan terhadap kecanduan, mulai dari gawai, rokok, alkohol, hingga narkoba. Kebiasaan mencoba-coba di usia remaja ini sering kali menjadi pintu masuk menuju kecanduan jangka panjang.

Dampaknya tidak hanya menyerang kesehatan fisik, seperti gangguan paru-paru dan jantung, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental dan sosial. Lingkungan pergaulan, paparan konten digital, serta minimnya pengawasan menjadi faktor yang turut berperan.

7. Infeksi Menular Seksual

Rasa ingin tahu yang tinggi tanpa diimbangi edukasi yang memadai membuat anak muda berisiko mengalami infeksi menular seksual. Kurangnya pemahaman tentang perilaku seks aman dan risiko penularan masih menjadi masalah.

Di sisi lain, pembahasan soal kesehatan reproduksi sering dianggap tabu. Padahal, edukasi yang tepat sangat dibutuhkan agar anak muda dapat mengambil keputusan yang lebih aman dan bertanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri.

(sgc/and)
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement