Advertisement

Lewatkan Sarapan atau Makan Malam, Mana yang Lebih Efektif Turunkan Berat Badan?

asw | Insertlive
Ilustrasi makanan diet
Lewatkan Sarapan atau Makan Malam, Mana yang Lebih Efektif Turunkan Berat Badan?/Foto: dok. Freepik
Jakarta -

Lewatkan Sarapan atau Makan Malam, Mana yang Lebih Efektif Turunkan Berat Badan?

Puasa intermittent belakangan populer sebagai salah satu metode diet untuk menurunkan berat badan. Metode puasa ini dilakukan salah satunya dengan melewatkan waktu makan tertentu.

Beberapa percaya bahwa melakukan puasa intermittent dengan melewatkan sarapan lebih efektif, tetapi ada pula yang menyarankan untuk tidak makan malam atau berhenti makan sebelum pukul 7 malam.

Hal ini tentunya menimbulkan perdebatan soal mana di antara kedua pilihan tersebut yang dinilai lebih efektif dalam membantu menurunkan berat badan. Tidak sarapan versus tidak makan malam, mana yang lebih efektif untuk penurunan berat badan? Berikut ulasannya.

Sarapan Vs Makan Malam, Kebiasaan yang Dipengaruhi Budaya

Dr. Pham Anh Ngan dari University Medical Center Ho Chi Minh City mengungkapkan bahwa puasa intermittent, terutama pola makan yang dibatasi terbukti mampu membantu penurunan berat badan.

Advertisement

Sementara soal kebiasaan makan, dr. Pham menjelaskan bahwa budaya sangat berpengaruh terhadap hal ini. Beberapa menganggap sarapan sebagai waktu makan utama, sementara sebagian lain menganggap makan siang dan malam sebagai waktu makan utama.

Pada umumnya, waktu makan yang dianggap utama menghadirkan porsi makan yang lebih besar serat mengandung lebih banyak protein dan sayuran.

Meski demikian, dr. Pham menegaskan bahwa baik melewati sarapan atau pun makan malam, keduanya sama-sama punya manfaat dan kekurangan masing-masing untuk metabolisme tubuh.

"Sejumlah studi menunjukkan bahwa melewatkan makan malam cenderung lebih berdampak pada penurunan total asupan kalori harian sehingga dianggap efektif untuk program penurunan berat badan," kata dr. Pham kepada VN Express, dikutip Jumat (6/2).


Melewatkan Sarapan atau Makan Malam Punya Konsekuensi Tersendiri

Tak sarapan atau makan malam punya konsekuensi tersendiri. Melakukan hal ini pun tak lepas dari risiko yang bisa mempengaruhi fungsi metabolisme tubuh.

Kebiasaan melewatkan makan malam bisa memperlambat metabolism, meningkatkan risiko kurang nutrisi, mengurangi kualitas tidur, hingga memicu rasa lapar berlebihan dan membuat sistem imun tubuh menjadi lemah.

Sementara melewatkan sarapan dipercaya bisa membuat seseorang lebih fokus dan ringan di pagi hari. Namun rasa lapar yang menumpuk sering berujung pada pilihan makanan yang kurang sehat di kemudian hari, seperti konsumsi gula dan lemak yang berlebih.

Penelitian juga menemukan bahwa kebiasaan melewatkan sarapan memang bisa memperbaiki sensitivitas insulin, tetapi respons glukosa dan insulin bisa cenderung memburuk saat makan di ujung hari.

Maka dapat disimpulkan bahwa melewatkan sarapan atau makan malam, termasuk puasa intermitten punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Perlu diingat bahwa ada beberapa jenis makanan bergizi lebih sering dikonsumsi pada waktu tertentu, seperti susu dan biji-bijian utuh di waktu sarapan, serta sayuran dan protein saat makan malam.

“Keputusan untuk melewatkan sarapan atau makan malam sebaiknya fleksibel dan disesuaikan dengan respons tubuh masing-masing,” ujar dr. Pham.

Maka untuk mendapatkan hasil maksimal dalam proses penurunan berat badan dengan efektif dan aman, dr. Pham menyarankan pola makan yang memperbanyak sayuran dan protein rendah lemak.

Hal ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan individu dan rutinitas olahraga. Asupan karbohidrat berlebih juga perlu dikurangi.

Konsultasi dengan ahli gizi juga sangat dianjurkan agar diet yang dijalani sesuai dengan kondisi fisik dan tujuan yang ingin dicapai.



(asw/fik)

Komentar

!nsertlive

Advertisement