Advertisement

6 Bahaya Silent Treatment Bagi Hubungan

Steffy Gracia | Insertlive
Pria depresi
6 Bahaya Silent Treatment Bagi Hubungan / Foto: Andrii Rakov
Jakarta -

6 Bahaya Silent Treatment Bagi Hubungan

Diam tidak selalu membawa ketenangan. Dalam hubungan, silent treatment atau sikap mendiamkan pasangan kerap dianggap sebagai cara menahan emosi atau menghindari pertengkaran.

Padahal, di balik sikap dingin tersebut, silent treatment bisa menjadi bentuk manipulasi emosional yang berbahaya jika dilakukan berulang kali tanpa kejelasan.

Alih-alih menyelesaikan masalah, komunikasi yang terputus justru menimbulkan luka emosional yang sulit terlihat secara kasat mata.

Rasa tidak aman, kebingungan, hingga hubungan yang perlahan berubah menjadi toxic bisa bermula dari kebiasaan ini.

Advertisement

Berikut enam bahaya silent treatment yang sering disepelekan, tapi berdampak besar bagi hubungan.

1. Merusak Harga Diri

Ketika seseorang terus-menerus dihadapkan pada sikap diam tanpa penjelasan, perlahan pasti akan muncul perasaan bersalah. Korban silent treatment kerap mempertanyakan dirinya sendiri, merasa tidak cukup baik, hingga menyalahkan diri atas konflik yang terbentuk. Tanpa disadari, hal ini menggerus harga diri dan kepercayaan diri.

Dalam jangka panjang, korban bisa menjadi pribadi yang terlalu sering meminta maaf, bahkan untuk hal-hal kecil. Studi dari University of Sydney menyebutkan bahwa pengucilan sosial yang terjadi berulang ini dapat menurunkan harga diri, memicu kecemasan, hingga meningkatkan risiko depresi dan gangguan kesehatan mental lainnya.

2. Merendahkan dan Menghapus Eksistensi Pasangan

Sejak lama, pengucilan dianggap sebagai bentuk hukuman sosial yang sangat menyakitkan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan koneksi dan pengakuan. Saat seseorang diabaikan, muncul perasaan tidak dihargai dan seolah keberadaannya tidak berarti.

Penelitian sejak tahun 1976 menunjukkan bahwa memperlakukan seseorang seakan-akan mereka tidak ada dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius. Korban silent treatment sering merasa direndahkan, tidak dipedulikan, dan kehilangan rasa bernilai mereka sebagai seorang individu.

3. Menunjukkan Penolakan

Banyak orang memilih diam saat konflik dengan harapan suasana akan mereda dengan sendirinya. Namun, dalam praktiknya, perilaku silent treatment ini justru memperbesar jarak emosional. Ketika tidak ada komunikasi, pasangan bisa merasa ditolak, tidak diinginkan, atau tidak dianggap penting.

Perasaan ini dapat memicu keraguan terhadap hubungan yang sedang dijalani. Jika berlangsung lama, rasa aman dalam hubungan perlahan menghilang dan kepercayaan pun ikut terkikis.


4. Bentuk Manipulasi Emosional yang Terselubung

Silent treatment sering digunakan sebagai alat untuk mengontrol situasi atau memenangkan konflik tanpa harus beradu atau bertukar argumen. Banyak psikolog menyebut sikap ini sebagai salah satu bentuk manipulasi emosional. Menurut Psychology Today, perilaku ini dapat memicu kecemasan, ketakutan, dan tekanan emosional pada pihak yang didiamkan.

Korban kerap dibuat menebak-nebak kesalahan yang belum tentu ia pahami. Dalam kondisi ini, seseorang bisa kehilangan kepercayaan diri, terus merasa bersalah, dan mengalami tekanan mental yang cukup berat.

5. Merusak Komunikasi dalam Hubungan

Komunikasi adalah fondasi utama dalam hubungan yang sehat. Saat silent treatment terjadi, pintu komunikasi tentu akan tertutup sepihak. Masalah yang seharusnya dibicarakan justru dipendam dan tidak pernah menemukan solusi.

Psikolog Iswan Saputro, M.Psi., menyebut bahwa hubungan yang dipenuhi sikap diam mencerminkan ketidakdewasaan emosional. Keinginan dan kebutuhan satu sama lain tidak tersampaikan, sehingga hubungan menjadi tidak terbuka dan kehilangan rasa saling percaya. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat menurunkan keintiman dan mempercepat keretakan hubungan.

6. Memicu Rasa Sakit Secara Fisik

Dampak silent treatment tidak hanya berhenti pada emosi. Penelitian menunjukkan bahwa pengabaian sosial dapat mengaktifkan korteks anterior di otak, yaitu area yang juga berperan dalam memproses rasa sakit fisik. Artinya, rasa ditinggalkan bisa benar-benar terasa menyakitkan secara tubuh.

Korban yang terkena silent treatment dapat mengalami gejala fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, nyeri otot, hingga kelelahan berkepanjangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa luka emosional akibat perilaku silent treatment memiliki dampak nyata pada kesehatan secara keseluruhan.

Itulah enam bahaya silent treatment yang patut diwaspadai. Diam memang terasa jadi jalan paling mudah saat emosi memuncak, tapi tanpa komunikasi yang jelas, hubungan justru bisa terluka perlahan. Bagi Insertizen, menyampaikan perasaan dengan jujur dan sehat kepada pasangan tetap jadi kunci menjaga hubungan tetap kuat, lho. Jika butuh waktu untuk menenangkan diri, katakan apa adanya agar tidak meninggalkan luka emosional yang berlarut.



(ikh)

Komentar

!nsertlive