5 Bahaya Timbal di Peralatan Bagi Anak
5 Bahaya Timbal di Peralatan Bagi Anak
Peralatan anak yang tampak aman dan menarik sering kali luput dari pemeriksaan detail. Warna cerah, bentuk lucu, dan harga terjangkau kerap menjadi pertimbangan utama orang tua. Padahal, di balik benda-benda yang digunakan anak sehari-hari, ada risiko serius yang jarang disadari, yakni paparan timbal.
Timbal adalah logam berat beracun yang bisa ditemukan pada berbagai peralatan anak, mulai dari mainan, alat makan, hingga perlengkapan rumah tangga. Paparan dalam jangka panjang dapat mengganggu tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun mental. Mengingat tubuh anak masih berkembang, dampaknya pun bisa jauh lebih berbahaya dibandingkan orang dewasa. Lalu, apa saja bahaya timbal yang perlu diwaspadai orang tua? Berikut penjelasannya.
Apa itu Keracunan Timbal?
Keracunan timbal terjadi ketika logam berat ini menumpuk di dalam tubuh dan mengganggu fungsi organ. Timbal bisa masuk melalui berbagai jalur, mulai dari tertelan lewat makanan dan minuman, terhirup, terserap melalui kulit, hingga kontak langsung dengan benda yang mengandung timbal.
Begitu masuk ke tubuh, timbal akan beredar melalui darah dan mengendap di organ penting seperti otak, ginjal, dan hati. Dalam jangka panjang, zat ini juga tersimpan di tulang dan gigi, sehingga efeknya bisa baru terasa setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Yang perlu diingat, tidak ada kadar timbal yang benar-benar aman, terutama bagi anak-anak.
Data Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) tahap pertama yang dilakukan pada Mei hingga November 2025 menunjukkan fakta bahwa dari 1.617 anak usia 12 sampai 59 bulan di enam provinsi, satu dari tujuh anak Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah yang tinggi dan membutuhkan penanganan medis. WHO pun menegaskan bahwa paparan timbal, meski rendah, tetap berisiko menyebabkan gangguan perkembangan otak dan kerusakan permanen.
Sumber Paparan Timbal di Sekitar Anak
Paparan timbal bisa datang dari berbagai benda di sekitar anak yang sering kali terlihat aman. Berikut beberapa sumber timbal yang paling umum ditemukan di lingkungan sehari-hari:
- Cat rumah lama
- Mainan anak berkualitas rendah
- Peralatan makan anak yang tidak bersertifikasi
- Pipa air dan sambungan logam lama
- Debu dan tanah yang terkontaminasi
- Perhiasan imitasi
- Peralatan masak berbahan keramik atau logam
- Kosmetik dan perlengkapan seni
- Makanan kaleng
- Baterai dan limbah elektronik
Faktor Risiko Keracunan Timbal
Ada beberapa kondisi yang membuat anak lebih rentan terpapar timbal, antara lain:
Anak-anak di bawah usia enam tahun memiliki risiko paling tinggi, sebab bayi dan anak pada usia tersebut memiliki kebiasaan memasukkan tangan atau benda ke mulut.
Tinggal di bangunan lama dengan cat berbahan timbal, terutama jika serpihan cat terhirup atau tertelan.
Hobi orang dewasa di rumah, seperti membuat perhiasan atau kerajinan dengan solder timbal.
Lingkungan kerja yang terpapar timbal, misal pabrik pembuatan baterai atau senjata api, pertambangan, atau tempat pengolahan minyak dan gas bumi.
Bahaya Timbal di Peralatan Bagi Anak
1. Gangguan Perkembangan Otak dan Penurunan IQ
Timbal bersifat neurotoksik dan sangat berbahaya bagi sistem saraf pusat. Paparan yang terjadi terus-menerus dapat menurunkan IQ, memperlambat perkembangan kognitif, serta memengaruhi kemampuan belajar anak. Dampaknya sering kali tidak langsung terlihat, tetapi efeknya bisa menetap hingga dewasa.
Gangguan ini bisa membuat anak kesulitan memahami pelajaran, mengalami keterlambatan bicara, hingga memiliki daya ingat yang lebih lemah dibandingkan anak seusianya.
2. Gangguan Perilaku dan Emosionalbe
Paparan timbal juga berkaitan dengan perubahan perilaku. Anak yang terpapar cenderung lebih gelisah, impulsif, sulit berkonsentrasi, dan menunjukkan perilaku agresif. Dalam beberapa kasus, gejalanya menyerupai ADHD.
Masalah ini kerap disalahartikan sebagai gangguan perilaku biasa, padahal akar permasalahannya bisa berasal dari paparan logam berat sejak dini.
3. Kerusakan Sistem Saraf
Selain memengaruhi fungsi kognitif, timbal juga dapat merusak sistem saraf secara menyeluruh. Anak bisa mengalami gangguan sensorik seperti penurunan pendengaran dan gangguan koordinasi.
Jika paparan berlangsung lama, kerusakan saraf ini bisa berdampak permanen dan memengaruhi kualitas hidup anak di masa depan.
4. Anemia dan Gangguan Pertumbuhan Fisik
Timbal menghambat pembentukan hemoglobin, sehingga anak berisiko mengalami anemia. Kondisi ini membuat tubuh mudah lelah, pucat, lesu, serta menurunkan nafsu makan.
Dalam jangka panjang, anemia akibat timbal dapat menghambat pertumbuhan fisik, menyebabkan berat badan sulit naik, dan menurunkan daya tahan tubuh anak.
5. Kerusakan Organ Dalam dan Kejang
Pada kadar paparan yang tinggi, timbal dapat merusak ginjal, menyebabkan nyeri perut kronis, kram, sembelit, hingga gangguan kesadaran. Dalam kondisi berat, anak bisa mengalami kejang akibat gangguan fungsi otak.
Paparan ekstrem bahkan berisiko menyebabkan ensefalopati atau pembengkakan otak yang dapat berujung koma hingga kematian.
Gejala Keracunan Timbal pada Anak
Gejala keracunan timbal sering kali baru muncul saat kadar timbal dalam tubuh sudah cukup tinggi. Tanda-tandanya meliputi:
- Mudah lelah, pucat, dan lesu
- Keterlambatan tumbuh kembang
- Sulit berkonsentrasi
- Kehilangan kemampuan mendengar
- Nafsu makan dan berat badan menurun
- Kram dan nyeri perut
- Lemah pada sendi dan otot
- Sakit kepala
- Muntah
- Sembelit
- Kejang
Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Anak
Efek timbal tidak hanya berhenti di masa kanak-kanak. Paparan jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental hingga dewasa, termasuk gangguan hormonal, risiko hipertensi, penyakit jantung, kerusakan ginjal dan hati, serta masalah emosional seperti depresi.
Karena dampaknya yang luas dan sering kali tidak langsung terasa, pencegahan menjadi langkah paling penting bagi orang tua. Mulai dari memastikan peralatan anak aman dan bersertifikasi, sampai membiasakan cuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan, semua bisa membantu menekan risiko paparan timbal sejak dini.
(ikh/ikh)