Fakta-fakta GERD dan Kaitannya dengan Nyeri Dada yang Mirip Serangan Jantung
Rasa nyeri di dada sering membuat banyak orang langsung khawatir akan penyakit jantung. Padahal, keluhan tersebut juga bisa disebabkan oleh kondisi Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit asam lambung yang terjadi ketika cairan lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi terbakar.
GERD kerap disalahartikan sebagai gangguan jantung karena gejala yang mirip, seperti nyeri dada dan sesak. Ketika gejala ini muncul, seringkali menimbulkan kecemasan berlebih pada penderitanya.
GERD sendiri bukan sekadar penyakit asam lambung biasa. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu komplikasi serius, mengganggu aktivitas, hingga menurunkan kualitas hidup.
Simak penjelasan mengenai GERD, tanda-tandanya, faktor risiko, bahaya yang mungkin muncul, serta hubungannya dengan penyakit jantung yang sering membuat banyak orang keliru mengenalinya.
Apa Itu GERD?
GERD merupakan kondisi kronis dari penyakit refluks asam lambung. GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menyebabakan ketidaknyamanan, iritas, dan nyeri dada terus-menerus.
Hal ini terjadi karena melemahnya otot katup (sfingter) di bagian bawah kerongkongan yang seharusnya mencegah isi lambung naik ke atas.
GERD berbeda dari refluks asam lambung biasa. Perbedaannya terletak pada frekuensi, tingkat keparahan, dan dampaknya terhadap tubuh.
Refluks biasa merupakan fenomena pencernaan umum yang bisa dialami siapa saja setelah makan besar atau makanan pemicu tertentu. Refluks biasa terjadi sesekali dengan gejala berupa rasa terbakar di dada (heartburn) atau rasa asam di mulut yang hilang dalam waktu singkat.
Sementara itu, suatu kondisi disebut GERD ketika refluks terjadi setidaknya dua kali atau lebih dalam seminggu dan rutin.
Gejala Umum GERD
Beberapa gejala yang sering muncul pada penderita GERD:
- Rasa terbakar di dada atau heartburn.
- Nyeri dada yang dapat menyebar ke leher dan punggung, sering diartikan sebagai masalah jantung.
- Batuk kering yang persisten. Iritasi yang disebabkan asam lambung memicu batuk kronis.
- Gangguan tidur karena regurgitasi isi lambung.
Komplikasi yang Mungkin terjadi Akibat GERD
Penyakit GERD dapat mengundang berbagai penyakit lain pada penderitanya, di antaranya:
1. Oesophagitis: Iritasi dan peradangan yang terus-menerus dapat disebabkan oleh asam lambung yang mengikis lapisan oesophagus.
2. Barrett's Oesophagus: Dalam beberapa kasus, GERD kronis dapat memicu perubahan pada sel-sel yang melapisi kerongkongan. Perubahan ini meningkatkan risiko kanker kerongkongan seiring waktu.
3. Strictures: Penyempitan kerongkongan akibat pembentukan jaringan parut. Kondisi ini disebabkan oleh peradangan kronis dan cedera berulang pada lapisan kerongkongan. Salah satu tandanya adalah kesulitan menelan.
4. Masalah Pernapasan: Paparan jangka panjang terhadap isi lambung akibat GERD dapat menyebabkan komplikasi pernapasan seperti asma, batuk kronis, atau pneumonia.
5. Masalah Gigi: Asam lambung juga dapat memiliki efek korosif pada gigi dan dapat berkontribusi pada masalah gigi, seperti erosi email, lubang gigi, dan penyakit gusi.
6. Kanker Esofagus: Akibat jangka panjang dari GERD yang tidak diobati termasuk peningkatan risiko kanker esofagus.
Apakah GERD Dapat Memicu Serangan Jantung?
Jawabannya, tidak. Gejala GERD dan serangan jantung memang mirip, tetapi GERD bukan penyebab serangan jantung.
Dokter Tasrif Mansur dari RSUP Wahidin Sudirohusodo menjelaskan, gejala GERD bisa menyerupai gejala serangan jantung. Namun, kedua penyakit tersebut merupakan sistem yang berbeda.
"Penyakit jantung merupakan suatu penyakit di sistem kardiovaskular pada organ jantung, sementara GERD berada pada lambung yang merupakan sistem pencernaan,"
Ia juga menjelaskan cara membedakan serangan jantung dengan GERD dari lokasi dan jenis nyeri yang dirasakan.
"Pada serangan jantung, nyerinya sulit dilokalisir oleh pasien, dan biasanya nyeri menjalar, tembus ke belakang, ke lengan, atau bisa ke rahang. Sementar pada GERD, nyerinya lebih dominan di ulu hati, kadang ada sensasi panas di dada, tapi pasien masih bisa melokalisirnya dengan baik," jelasnya.
(KHS/KHS)