7 Kebiasaan Positif Orang Bali yang Bisa Jadi Inspirasi Hidup Harmonis
7 Kebiasaan Positif Orang Bali yang Bisa Jadi Inspirasi Hidup Harmonis (Foto: I Wayan Sui Suadnyana/detikcom)
Bali dikenal tidak hanya keindahan alam dan budayanya, tetapi juga berkat nilai-nilai kehidupan yang masih dijaga kuat oleh masyarakatnya. Di balik keindahan pantai, pura, dan keseniannya, masyarakat Bali menyimpan nilai-nilai kehidupan yang membentuk cara hidup mereka sehari-hari. Nilai tersebut tercermin dalam kebiasaan positif yang dijalani secara konsisten, dari urusan spiritual hingga hubungan sosial.
Menariknya, kebiasaan orang Bali ini tidak hanya relevan di Pulau Dewata, tetapi juga bisa menjadi inspirasi untuk menjalani hidup yang lebih seimbang dan harmonis di mana pun berada.
Berikut 7 kebiasaan positif orang Bali yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari rangkuman versi InsertLive.
Asal Usul Kebiasaan Positif Orang Bali
Kebiasaan positif masyarakat Bali tidak lahir secara instan. Nilai-nilai tersebut tumbuh dari filosofi hidup, ajaran agama Hindu, serta tradisi leluhur yang diwariskan lintas generasi. Prinsip keseimbangan ini menjunjung tinggi filosofi 'Tri Hita Karana' (harmoni dengan Tuhan, sesama, alam), gotong royong, kesenian dalam hidup sehari-hari, ritual keagamaan (seperti mesaiban dan sesajen), keramahan, kebersamaan keluarga, dan kesederhanaan, yang semuanya mencerminkan keseimbangan dan rasa syukur. Berikut adalah 7 kebiasaan positif tersebut:
1. Menjalankan Filosofi Tri Hita Karana
Tri Hita Karana merupakan filosofi hidup yang sangat lekat dengan masyarakat Bali. Konsep ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama (Pawongan), dan alam (Palemahan), sesama manusia, dan alam. Ketiga unsur ini tidak dipandang terpisah, melainkan saling berkaitan dan harus dijaga secara bersamaan.
Dalam praktiknya, filosofi ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari ritual keagamaan, tata ruang desa, hingga cara masyarakat memperlakukan lingkungan sekitar. Tujuannya bukan hanya menciptakan ketertiban sosial, tetapi juga mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin.
2. Gotong Royong dan Kebersamaan sebagai Perekat Sosial
Gotong royong menjadi kebiasaan yang masih kuat di tengah masyarakat Bali. Dalam berbagai kegiatan, baik upacara adat, pembangunan fasilitas desa, hingga kegiatan sosial, masyarakat Bali terbiasa bekerja bersama tanpa pamrih.
Kebiasaan ini membuat hubungan antarwarga terasa lebih dekat dan saling bergantung satu sama lain. Gotong royong bukan sekadar kerja bersama, tetapi juga bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap komunitas.
3. Kesenian dalam Kehidupan Sehari-hari
Di Bali, seni dan kesenian bukan hanyalah hiburan, melainkan bagian dari kehidupan spiritual dan budaya. Tarian, musik gamelan, seni ukir, hingga hiasan rumah memiliki makna simbolis dan sering kali berkaitan dengan ritual keagamaan.
Keterlibatan masyarakat dalam kesenian sejak usia dini membuat seni menjadi bahasa sehari-hari dalam mengekspresikan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Inilah yang menjadikan budaya Bali terasa hidup dan terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.
4. Ritual Keagamaan dan Upacara Adat sebagai Rutinitas
Masyarakat Bali dikenal sangat konsisten dalam menjalankan ritual keagamaan dan upacara adat. Di tengah modernisasi, kebiasaan ini tetap dijaga dan tidak dianggap sebagai beban, melainkan bagian dari keseharian. Kebiasaan orang Bali ini pun menjadi keunikan dan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, karena tradisi seperti ini tidak mudah ditemukan di daerah lain.
Ritual harian seperti mesaiban (persembahan sederhana) dan meletakkan canang sari (sesajen) menjadi wujud rasa syukur dan permohonan keselamatan. Melalui praktik tersebut, masyarakat Bali mengekspresikan hubungan spiritual dengan Tuhan, menjaga keseimbangan alam, serta memperkuat nilai kebersamaan. Partisipasi dalam upacara adat juga dipandang sebagai kontribusi positif bagi komunitas, sementara penggunaan pakaian adat dalam berbagai acara keagamaan, pernikahan, pertemuan, dan persembahyangan menunjukkan betapa kuatnya komitmen masyarakat Bali dalam melestarikan tradisi leluhur.
5. Ramah dan Terbuka
Keramahan orang Bali sudah lama menjadi daya tarik tersendiri bagi pendatang dan wisatawan. Sikap terbuka ini mencerminkan nilai toleransi dan penghormatan terhadap sesama, tanpa memandang latar belakang.
Dalam interaksi sehari-hari, masyarakat Bali menjunjung tinggi sopan santun, baik melalui bahasa maupun sikap tubuh. Kebiasaan ini menciptakan suasana sosial yang hangat dan saling menghargai.
6. Menghargai Keluarga dan Leluhur
Keluarga memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Hubungan keluarga, baik inti maupun besar, dijaga dengan penuh tanggung jawab dan rasa hormat.
Penghormatan kepada leluhur diwujudkan melalui berbagai ritual dan upacara keluarga. Tradisi ini bukan hanya soal kepercayaan, tetapi juga cara menjaga nilai moral dan identitas keluarga dari generasi ke generasi.
7. Kesederhanaan dan Keharmonisan dengan Alam
Masyarakat Bali dikenal menjalani hidup dengan prinsip tidak berlebihan. Alam juga dipandang sebagai bagian dari kehidupan manusia yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya.
Aturan adat, seperti pembatasan tinggi bangunan agar tidak melebihi pohon kelapa, menjadi simbol keharmonisan antara manusia dan alam. Kebiasaan ini mengajarkan kerendahan hati sekaligus kesadaran ekologis yang relevan hingga saat ini.
Kebiasaan positif orang Bali ini membuktikan bahwa hidup harmonis tidak selalu membutuhkan hal besar. Konsistensi menjaga keseimbangan, menghargai sesama, serta hidup selaras dengan alam justru menjadi kunci ketenangan dan kebahagiaan jangka panjang. Nilai-nilai inilah yang bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
(sgc/and)
In-Depth
In-Depth: Aftermath Bencana Sumatra dan Langkah Kecil Gotong Royong Rakyat Bersama Artis
Senin, 08 Dec 2025 17:00 WIB
Sosok Tugba Kiara Eks Fiki Naki yang Disorot, Dulu Putus gegara...
Selasa, 25 Nov 2025 13:45 WIB
Eksklusif
Anak Muda Bali Jadikan Layangan Sebagai Ajang Hiburan Sekaligus Pelestarian Budaya Spiritual
Sabtu, 06 Sep 2025 07:30 WIBTERKAIT