Advertisement

Terobsesi Awet Muda, Bryan Johnson Justru Didiagnosis Penyakit Autoimun Langka

Insertlive | Insertlive
Bryan Johnson
Terobsesi Awet Muda, Bryan Johnson Justru Didiagnosis Penyakit Autoimun Langka / Foto: dok. Instagram @bryanjohnson_
Jakarta -

Bryan Johnson, pengusaha teknologi asal Amerika Serikat yang dikenal luas lewat proyek anti-penuaan Blueprint, membagikan kabar terbaru yang tak disangka. Di balik rutinitas kesehatan superketat yang selama ini dijalaninya, pria berusia 48 tahun itu ternyata didiagnosis mengidap autoimmune gastritis (AIG), penyakit autoimun langka yang menyerang lambung.

Kabar itu disampaikan langsung oleh Johnson melalui akun X miliknya. Ia mengungkapkan bahwa sistem kekebalan tubuhnya justru menyerang lambungnya sendiri.

"Saya mengidap penyakit autoimun. Lambung saya sedang memakan dirinya sendiri," tulis Bryan Johnson.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan permanen pada lambung. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat memicu kekurangan nutrisi, anemia, hingga meningkatkan risiko kanker lambung.

Advertisement

Temuan ini menjadi perhatian karena selama bertahun-tahun Johnson dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin memantau kondisi kesehatannya. Ia rutin menjalani pemeriksaan darah, pemantauan biomarker, serta berbagai tes medis sebagai bagian dari proyek Blueprint yang bertujuan memperlambat proses penuaan.

Meski begitu, autoimmune gastritis tidak terdeteksi melalui pemeriksaan rutin tersebut. Penyakit itu baru diketahui setelah dokter melakukan endoskopi yang dilanjutkan dengan biopsi pada lambung.

Pemeriksaan menemukan adanya tanda-tanda awal atrofi pada sel penghasil asam lambung, sementara bagian lambung lainnya masih dalam kondisi baik.

"Saya baru mengetahuinya pada Mei. Saya juga tidak tahu sejak kapan penyakit ini ada," ungkap Bryan Johnson.

Autoimmune gastritis merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika sistem imun secara keliru menyerang lapisan lambung. Akibatnya, produksi asam lambung dan intrinsic factor-protein yang berperan penting dalam penyerapan vitamin B12-menjadi terganggu.

Penyakit ini sering kali berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga banyak kasus baru terdiagnosis setelah muncul komplikasi, seperti anemia, kekurangan zat besi, defisiensi vitamin B12, hingga meningkatnya risiko kanker lambung.

Johnson menduga penyakit tersebut dipengaruhi gaya hidupnya di masa lalu. Ia mengaku semasa kecil terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula, minuman bersoda, dan makanan cepat saji. Memasuki usia 20-an, tekanan saat membangun perusahaan sekaligus membesarkan tiga anak membuat kondisi kesehatannya semakin menurun.

"Tekanan membangun bisnis membuat saya mengalami stres berkepanjangan. Berat badan saya naik sekitar 18 kilogram dan saya sempat mengalami depresi kronis," tuturnya.

Selain itu, sejak usia 21 tahun Johnson telah didiagnosis menderita hipotiroid dan masih menjalani terapi hormon hingga sekarang. Dokter juga menemukan kadar ferritin atau cadangan zat besinya terus berada di level rendah meski kadar hemoglobinnya tetap normal.

Sebelum diagnosis autoimmune gastritis ditegakkan, Johnson sempat menjalani kolonoskopi dengan hasil yang tidak menunjukkan kelainan. Penyakit tersebut baru teridentifikasi setelah dilakukan endoskopi menyeluruh disertai biopsi pada tiga bagian lambung yang memperlihatkan tanda-tanda autoimmune gastritis stadium awal.

Hingga saat ini belum tersedia terapi yang dapat menyembuhkan autoimmune gastritis. Penanganan yang dilakukan umumnya bertujuan mengatasi kekurangan nutrisi, meredakan gejala, serta memantau kemungkinan terjadinya komplikasi.

Meski demikian, Johnson tidak kehilangan optimisme. Ia mengaku tengah mengeksplorasi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mengembangkan pendekatan pengobatan baru, termasuk merancang antibodi berbasis AI yang diharapkan mampu menghentikan serangan sistem imun terhadap lambung.

(kpr/and)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement