Aurelie Moeremans Bongkar Bahaya Toxic Relationship Usai Ikuti Kasus Penyekapan di Bandung
Aurelie Moeremans ikut menyoroti kasus penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang wanita di Bandung yang diduga dilakukan oleh kekasihnya sendiri. Aktris tersebut mengaku sedih sekaligus geram setelah melihat masih banyak warganet yang justru menyalahkan korban.
Kasus yang melibatkan Taufik Hidayat dan korban berinisial YTR itu menjadi perhatian publik karena korban diduga mengalami penyekapan dan kekerasan selama tiga tahun. Setelah sempat buron, pelaku akhirnya berhasil ditangkap polisi.
Melalui unggahan di Instagram, Aurelie mengaku mengikuti perkembangan kasus tersebut. Ia bahkan menonton podcast yang membahas kejadian itu, tapi justru semakin terpukul setelah membaca komentar dari warganet.
"Aku baru mengikuti kasusnya Yuvita yang di Bandung. Semalam nonton podcast-nya dan langsung nggak bisa tidur. Terus aku iseng baca komen-komennya makin nggak bisa tidur," ujar Aurelie.
Menurut Aurelie, sangat disayangkan karena masih ada orang yang menyalahkan korban. Padahal, korban sudah mengalami luka fisik dan trauma yang berat.
"Gila ya, korbannya udah jelas-jelas mukanya hancur gitu, udah nggak bisa lihat. Masih ada aja orang yang komennya tuh, 'Ah itu bucin aja kali,' atau 'Ya salah sendiri kumpul kebo.' Masih ada lho orang yang cari-cari kesalahan korban," bebernya.
Adapun hal yang membuat Aurelie semakin kecewa karena ada warganet yang membandingkan kasus tersebut dengan pengalaman pribadinya saat pernah mengalami hubungan yang tidak sehat.
"Parahnya lagi ada lho yang bawa-bawa nama aku. Katanya kalau Aurelie masih di bawah umur waktu itu, kalau ini kan udah dewasa. Please kalau jahat nggak usah bawa-bawa nama aku," tegasnya.
Aurelie menjelaskan bahwa korban dalam hubungan yang penuh kekerasan sering kali mengalami manipulasi dan kontrol dari pelaku. Menurutnya, kondisi seperti itu bisa menimpa siapa saja, tidak hanya mereka yang masih di bawah umur.
"Orang dimanipulasi atau dikontrol itu nggak hanya anak di bawah umur. Aku tuh relate banget sama Yuvita karena polanya tuh mirip banget."
Ia kemudian menjelaskan pola yang sering terjadi dalam hubungan beracun.
"Awalnya baik, terus si korban diisolasi dari keluarga, terus si korban terlihat ngebrontak, banyak bohong, kesannya tuh emang dia yang mau seperti itu. Paksa tato, duitnya dikuras, dan akhirnya si korban dikasarin gitu. Itu sih bukan bucin ya, itu kontrol," jelas Aurelie.
Pengalaman tersebut juga pernah ia ceritakan dalam buku berjudul Broken Strings. Dalam buku itu, Aurelie mengungkap bagaimana dirinya sempat terjebak dalam toxic relationship dan nyaris kehilangan nyawa.
"Yang udah baca Broken Strings pasti tahu bahwa aku berhasil keluar dari toxic relationship setelah malam sebelumnya aku hampir diajak mati bareng di tol," ungkapnya.
Aurelie mengaku masih mengingat betul momen ketika dirinya berada dalam situasi yang sangat berbahaya.
"Jadi maut tuh udah bener-bener di depan mata. Dan kalau saat itu aku nggak punya orang yang sayang sama aku dan semangatin aku untuk keluar dari situ sih, aku nggak tahu akan separah apa. Nggak tahu masih hidup apa nggak," katanya.
Ia juga merasa sedih karena korban dalam kasus di Bandung harus menjalani situasi tersebut selama bertahun-tahun.
"Itu sih yang bikin aku sedih di kasusnya Y*a. Tiga tahun loh. Walaupun kakak-kakaknya sempat nyoba ya di awal. Tapi akhirnya mereka nyerah karena mereka mikir bahwa Yutanya yang mau. Jadi ya akhirnya dia tiga tahun sendirian sama orang itu," tuturnya.
Di akhir pesannya, Aurelie mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap orang-orang yang diduga menjadi korban kekerasan dalam hubungan. Menurutnya, jangan menunggu korban meminta pertolongan karena banyak dari mereka yang sudah kehilangan keberanian atau bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi korban.
"Dan itu jebakan terbesar dari hubungan seperti ini. Itu yang pelaku mau. Jadi aku mohon kalau kalian curiga ada orang yang di posisi Yuvita, jangan sebatas curiga. Jangan tunggu sampai orangnya minta tolong. Karena mungkin dia takut untuk minta tolong. Mungkin dia diprogram untuk percaya bahwa semua itu salah dia. Kadang orang bahkan nggak sadar bahwa apa yang dia alami itu nggak normal," tandas Aurelie Moeremans.
(yoa/and)