Advertisement

Psikiater Soroti Kasus Penyiksaan Korban di Bandung, Ungkap Ciri-ciri Psikopatik

Insertlive | Insertlive
Trying to hide. Abused young woman with her hands in her hair as her abuser stands in front of her
Psikiater Soroti Kasus Penyiksaan Korban di Bandung, Ungkap Ciri-ciri Psikopatik / Foto: Yuri Arcurs
Jakarta -

Kasus dugaan penyekapan dan penyiksaan yang dialami seorang perempuan di Kabupaten Bandung tidak hanya menyita perhatian publik, tetapi juga memunculkan berbagai pertanyaan mengenai kondisi psikologis pelaku.

Spesialis Kedokteran Jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai bahwa apabila informasi mengenai penyekapan dan penyiksaan dalam waktu lama tersebut terbukti benar, maka tindakan itu menunjukkan bentuk kekerasan yang sangat ekstrem.

"Jika informasi yang didapatkan bahwa terdapat peristiwa penyekapan dan penyiksaan untuk waktu yang lama adalah benar terjadi, maka berarti telah terjadi perilaku kekerasan yang ekstrem tanpa rasa empati dan kontrol yang sangat dominan terhadap korban," jelas dr Lahargo dilansir dari detikcom, Selasa (23/6).

Menurutnya, perilaku semacam itu mengindikasikan adanya dominasi yang kuat terhadap korban sekaligus hilangnya empati terhadap penderitaan orang lain. Tindakan tersebut bahkan dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia karena dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak fisik maupun psikologis yang ditimbulkan.

Advertisement

Lebih lanjut, dr Lahargo menjelaskan bahwa karakteristik pelaku yang dingin dan mampu melakukan kekerasan secara sadis sering ditemukan pada individu dengan gangguan kepribadian antisosial yang memiliki perilaku psikopatik.

"Karakteristik ini ditemukan pada orang dengan gangguan kepribadian antisosial dengan perilaku psikopatik. Namun, kita perlu juga memahami bahwa tidak semua perilaku kekerasan dilakukan oleh seorang psikopat," tegasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak lantas melabeli seseorang sebagai psikopat hanya berdasarkan satu tindakan kekerasan. Diagnosis tetap harus dilakukan melalui pemeriksaan profesional yang menyeluruh.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi siapa saja yang sedang menjalin hubungan. Pasalnya, individu dengan kecenderungan psikopatik kerap mampu menampilkan citra yang sangat berbeda dari karakter aslinya, terutama pada tahap awal hubungan.

Untuk meningkatkan kewaspadaan, dr Lahargo memaparkan sejumlah karakteristik yang umum ditemukan pada individu dengan kecenderungan psikopatik, di antaranya:

1. Minim empati

Mereka cenderung tidak mampu merasakan atau memahami penderitaan yang dialami orang lain, bahkan terkadang sama sekali tidak menunjukkan kepedulian terhadap rasa sakit korbannya.

2. Tidak memiliki rasa bersalah

Setelah menyakiti orang lain, mereka umumnya tidak menunjukkan penyesalan, rasa bersalah, ataupun perasaan berdosa atas tindakan yang dilakukan.

3. Manipulatif

Mereka sangat terampil memengaruhi orang lain demi kepentingan pribadi serta pandai membangun citra positif di hadapan lingkungan sosial.

4. Gemar berbohong

Kebohongan sering digunakan sebagai alat untuk memperoleh keuntungan, menghindari konsekuensi, atau memenuhi kepuasan pribadi.

5. Sangat mengontrol

Keinginan untuk mengendalikan pasangan maupun orang-orang di sekitarnya sering kali muncul secara berlebihan dan mendominasi.

6. Egois dan objektifikasi orang lain

Orang lain tidak dipandang sebagai individu yang setara, melainkan hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya sendiri.

7. Memiliki pesona semu

Di awal perkenalan, mereka bisa tampil sangat menarik, ramah, perhatian, dan menawan sehingga membuat orang lain merasa nyaman dan mudah percaya.

Meski ciri-ciri tersebut dapat menjadi tanda kewaspadaan, dr Lahargo menegaskan bahwa penilaian terhadap kondisi kejiwaan seseorang tetap memerlukan evaluasi profesional. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan diagnosis sendiri, melainkan lebih fokus mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat dan berpotensi mengarah pada kekerasan.

(kpr/kpr)
Loading ...
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement