Advertisement

Kisah Sosialita Semarang yang Jadi Ibu Negara China

InsertLive | Insertlive
Oei Hui-lan
Kisah Sosialita Semarang yang Jadi Ibu Negara China/Foto: Instagram
Jakarta -

Tak banyak yang tahu bahwa China pernah memiliki seorang ibu negara yang lahir di Indonesia. Sosok tersebut adalah Oei Hui-lan, perempuan kelahiran Semarang yang dikenal sebagai sosialita internasional, ikon mode, sekaligus istri diplomat dan presiden China pada era Republik China.

Lahir pada 21 Desember 1889 di Semarang, Oei Hui-lan merupakan putri dari Oei Tiong Ham, pengusaha yang membangun Oei Tiong Ham Concern menjadi konglomerasi terbesar di Asia Tenggara pada awal abad ke-20. Kekayaan keluarganya begitu besar hingga Oei Tiong Ham dijuluki Raja Gula Dunia. 

Sejak kecil, Hui-lan tumbuh dalam kemewahan yang sulit dibayangkan. Ia tinggal di kawasan elite Semarang, menikmati pendidikan terbaik, serta terbiasa bergaul dengan kalangan bangsawan dan pejabat kolonial. Ayahnya dikenal memiliki pandangan modern dan sangat mengutamakan pendidikan Barat bagi anak-anaknya. Hui-lan bahkan disebut sebagai putri kesayangan sang ayah.

Namun, kehidupan mewah itu tidak membuat Hui-lan puas. Ia memiliki ambisi besar untuk menembus kalangan elite internasional. Pada 1909, ia menikah dengan diplomat Inggris bernama Beauchamp Caulfield-Stoker dan pindah ke London. Di kota itu, Hui-lan mulai dikenal sebagai sosialita papan atas yang gemar menghadiri pesta-pesta eksklusif, mengenakan busana mewah, serta bergaul dengan kalangan aristokrat Eropa.

Advertisement

Meski demikian, pernikahan tersebut tidak berjalan mulus. Setelah sekitar satu dekade bersama dan dikaruniai seorang putra, Hui-lan memutuskan bercerai pada 1920. Perceraian itu justru menjadi titik balik yang mengubah hidupnya. 

Tak lama setelah berpisah, ia bertemu diplomat China lulusan Columbia University, Wellington Koo, dalam sebuah jamuan makan malam di Paris. Pertemuan itu berkembang menjadi hubungan serius dan keduanya menikah di Brussel, Belgia, pada 1921. Pernikahan tersebut membawa Hui-lan masuk ke dunia diplomasi internasional yang jauh lebih besar. 

Sebagai istri diplomat, Hui-lan mendampingi suaminya berpindah dari satu negara ke negara lain. Mereka sempat tinggal di Jenewa saat pembentukan Liga Bangsa-Bangsa, kemudian menetap di Beijing ketika Wellington Koo menjabat Menteri Luar Negeri dan tokoh penting pemerintahan Republik China. Di berbagai acara kenegaraan, Hui-lan dikenal sebagai tuan rumah yang piawai membangun relasi diplomatik. Banyak sejarawan menilai perannya membantu memperkuat jaringan internasional China pada masa itu. 

Puncak perjalanan hidupnya terjadi pada 1926. Saat Wellington Koo menjabat Presiden Republik China untuk sementara, Hui-lan resmi menyandang status Ibu Negara China. Meski masa jabatan suaminya relatif singkat, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu First Lady Republik China dan menjadi perempuan kelahiran Indonesia yang pernah menduduki posisi tersebut.

Di luar perannya sebagai istri pejabat, Hui-lan juga dikenal sebagai ikon mode dunia. Ia sering memadukan busana tradisional China dengan sentuhan mode Barat sehingga menciptakan gaya yang unik. Penampilannya kerap menjadi sorotan dalam berbagai acara diplomatik di Beijing, Shanghai, Paris, hingga London. Namanya bahkan dikenal luas di kalangan sosialita internasional pada era 1920-an dan 1930-an.

Setelah suaminya tidak lagi menjabat, pasangan itu tinggal bergantian di Shanghai, Paris, dan London. Lingkaran pergaulan Hui-lan mencakup diplomat, pengusaha besar, bangsawan Eropa, hingga tokoh-tokoh penting dunia. Namun kehidupan glamor tersebut perlahan berubah seiring gejolak politik dunia dan perang yang melanda Asia. 

Pada 1941, Hui-lan pindah ke New York. Di sana ia aktif memanfaatkan jaringan internasionalnya untuk mendukung perjuangan China selama Perang Dunia II. Meski kemudian pernikahannya dengan Wellington Koo berakhir pada 1958, namanya tetap dikenang sebagai salah satu perempuan Asia paling berpengaruh di kalangan diplomatik pada zamannya. 

Hui-lan menghabiskan masa tuanya di Amerika Serikat dan menulis dua buku memoar yang mengisahkan kehidupannya sebagai putri konglomerat Semarang, sosialita dunia, hingga penghuni istana kepresidenan China. Ia meninggal dunia di New York pada 1992 dalam usia 102 tahun. 

Dari rumah mewah di Semarang hingga ruang-ruang diplomasi dunia, perjalanan hidup Oei Hui-lan menunjukkan bagaimana seorang perempuan Indonesia mampu menembus lingkaran elite internasional dan menorehkan namanya dalam sejarah China. 

(dis/KHS)
Loading ...

Komentar

!nsertlive

Advertisement