Kondisi Ekonomi Terpuruk Sempat Bikin Fanny Fadillah Ingin Jadi Bandar Narkoba
Hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Di balik tawa yang dulu ia hadirkan di layar kaca, Fanny Fadillah ternyata pernah melewati fase paling gelap dalam hidupnya, bahkan sampai muncul pikiran untuk melakukan hal yang melanggar hukum.
Aktor yang dikenal lewat komsit Bajaj Bajuri itu blak-blakan mengungkap kondisi hidupnya yang sempat hancur pada 2021. Tahun tersebut menjadi titik balik yang berat, dimulai dari perceraian dengan Elvita Novira hingga kehilangan sosok ibu tercinta.
"2021 itu cerai, ekonomi terpuruk dan pekerjaan berkurang drastis. Bukan cuma kehilangan sayap sebelah, saya juga kehilangan ibu tercinta. Pisah 2021 bulan Juni, Oktober mama dipanggil Yang Maha Kuasa," ungkapnya di Pagi Pagi Ambyar, Trans TV.
Tekanan hidup yang datang bertubi-tubi membuat kondisi mentalnya ikut terguncang. Bahkan sehari sebelum sang ibu meninggal, anaknya harus dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, menambah beban emosional yang sudah begitu berat.
Ia menggambarkan masa itu sebagai periode yang penuh kegelisahan hingga sulit tidur dan merasa kehilangan arah.
"Saya biasanya tidur gampang, jam 10 mata sudah berat banget. Setahunan saya cuma bisa gleat-gleot di tempat tidur. Kepala kayaknya mau pecah nih. Musti gimana gitu kan, sampai ada pemikiran dan setan-setan masuk ke orang yang paling gampang untuk mendapatkan uang itu hal yang paling jelek. Kepikiran di kepala itu jual narkoba," tuturnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa dalamnya tekanan yang Fanny rasakan saat itu. Namun, ia menegaskan bahwa pikiran tersebut tidak pernah ia wujudkan.
Di tengah kondisi yang nyaris membuatnya kehilangan arah, Fanny Fadillah memilih untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan. Keputusan itu menjadi titik penting yang membantunya bangkit dan menjauh dari pilihan hidup yang salah.
Kisah ini jadi pengingat bahwa tekanan ekonomi dan kehilangan bisa mendorong seseorang ke titik terendah. Namun, pilihan untuk berhenti dan kembali ke jalan yang benar tetap selalu ada, dan itulah yang akhirnya diambil oleh Fanny.
(ikh/and)