Dulu Masuk Forbes 30 Under 30, 6 Founder Startup Ini Berakhir di Penjara
Dulu Masuk Forbes 30 Under 30, Kini Masuk Penjara: 6 Founder Startup yang Jatuh dari Puncak
Masuk daftar Forbes 30 Under 30 kerap dianggap sebagai simbol kesuksesan tertinggi bagi para founder muda.
Mereka dipuja, dilabeli visioner, dan diprediksi bakal mengubah dunia lewat inovasi. Namun, tidak semua kisah berakhir manis.
Sejumlah nama yang pernah bersinar di daftar prestisius tersebut justru terseret kasus hukum serius.
Dari penipuan sekuritas hingga penyalahgunaan dana investor, berikut enam founder startup yang kariernya runtuh setelah sempat dielu-elukan dunia.
1. Nate Paul (Dari Pengembang Properti Elit ke Pusaran Kasus Hukum)
Nate Paul masuk daftar Forbes 30 Under 30 tahun 2016 saat berusia 29 tahun. Ia dikenal sebagai pengembang properti besar di Austin, Texas, dengan bisnis yang berkembang pesat.
Namun, pada 2019, nama Paul mulai tercoreng setelah perusahaannya, World Class Holdings, digugat oleh organisasi nirlaba The Mitte Foundation.
Gugatan tersebut muncul karena Paul disebut tidak transparan dalam menyerahkan dokumen keuangan terkait proyek investasi properti.
Masalah Paul tidak berhenti di situ. Beberapa perusahaannya kemudian mengalami kebangkrutan dan penyitaan aset.
Namanya bahkan sempat dikaitkan dengan kasus politik besar di Texas, termasuk isu pemakzulan Jaksa Agung Ken Paxton.
2. Martin Shkreli (Sosok Kontroversial yang Mengguncang Industri Kesehatan)
Martin Shkreli masuk Forbes 30 Under 30 pada 2013 berkat kiprahnya di industri farmasi. Ia menjabat sebagai CEO Turing Pharmaceuticals dan dikenal agresif dalam bisnis.
Namanya menjadi sorotan global setelah menaikkan harga obat HIV Daraprim hingga ribuan persen. Skandal tersebut berujung pada penangkapan Shkreli dan membawanya ke meja hijau.
Selain kontroversi harga obat, Shkreli juga terbukti melakukan penipuan sekuritas dan menipu investor hedge fund MSMB Capital. Ia diwajibkan membayar ganti rugi puluhan juta dolar AS dan menjadi salah satu figur paling dibenci di Silicon Valley.
3. Charlie Javice (Startup Edukasi yang Berujung Manipulasi Data)
Charlie Javice/ Foto: whartoncourtesy |
Charlie Javice dinobatkan sebagai Forbes 30 Under 30 tahun 2019 saat berusia 28 tahun. Ia mendirikan startup fintech Frank, platform yang diklaim membantu mahasiswa mengakses bantuan keuangan kuliah dengan lebih mudah.
Kesuksesan Frank terlihat nyata ketika JP Morgan Chase mengakuisisinya senilai US$175 juta. Namun, setelah akuisisi, bank raksasa tersebut menemukan fakta mengejutkan.
Jumlah pengguna Frank ternyata jauh dari klaim. Platform tersebut hanya memiliki sekitar 300 ribu pengguna, bukan 4 juta seperti yang dipresentasikan. Javice dituduh memanipulasi data dan menciptakan akun palsu demi membuat startup-nya terlihat besar.
Kasus ini berujung pada penangkapan Javice pada 2023. Dua tahun kemudian, ia divonis 85 bulan penjara dan diwajibkan membayar ganti rugi ratusan juta dolar AS.
4. Sam Bankman-Fried (Raja Kripto yang Kehilangan Segalanya)
Sam Bankman-Fried atau SBF sempat dipuja sebagai ikon dunia kripto. Ia mendirikan FTX dan Alameda Research, serta masuk daftar Forbes 30 Under 30 tahun 2021.
Di usia belum 30 tahun, kekayaan SBF diperkirakan mencapai US$26 miliar. Namun, kejayaan tersebut runtuh hanya dalam hitungan bulan.
Investigasi mengungkap bahwa SBF menggunakan dana nasabah FTX untuk menutupi kerugian Alameda Research dan kepentingan pribadi. Skandal ini mengguncang industri kripto global.
Pengadilan akhirnya menyatakan SBF bersalah atas tujuh dakwaan penipuan dan konspirasi. Ia dijatuhi hukuman 25 tahun penjara serta diwajibkan menyerahkan aset senilai US$11 miliar.
5. Caroline Ellison (Saksi Kunci dalam Skandal FTX)
Caroline Ellison, mantan CEO Alameda Research, juga pernah masuk radar Forbes 30 Under 30. Ia dikenal sebagai sosok penting di balik operasi perusahaan perdagangan kripto tersebut.
Dalam kasus Sam Bankman-Fried, Ellison menjadi saksi utama. Ia mengungkap bahwa penggunaan dana pelanggan FTX dilakukan atas arahan langsung SBF.
Ellison mengaku bersalah atas berbagai dakwaan, mulai dari penipuan elektronik, konspirasi penipuan komoditas dan sekuritas, hingga pencucian uang.
Pengakuannya menjadi faktor krusial yang menyeret mantan kekasihnya itu ke hukuman berat.
6. Gokce Guven (Founder Fintech Muda yang Terjerat Penipuan Investor)
Gokce Guven/ Foto: Tech Optimist |
Gokce Guven masuk Forbes 30 Under 30 berkat startup fintech Kalder yang didirikannya pada 2022. Ia dipandang sebagai bintang baru di dunia teknologi finansial.
Namun, hanya berselang satu tahun, Guven terseret kasus hukum serius. Ia didakwa melakukan penipuan sekuritas, penipuan kawat, dan pencurian identitas.
Guven disebut memberikan klaim palsu soal kemitraan Kalder dengan merek-merek besar. Faktanya, kerja sama tersebut hanya sebatas uji coba, bukan kemitraan aktif.
Ia juga diduga melakukan pembukuan ganda untuk menipu investor dan mengamankan pendanaan US$7 juta. Saat ini, kasus Guven masih bergulir di pengadilan federal New York.
Kisah enam founder ini menjadi pengingat bahwa pengakuan Forbes bukan jaminan integritas. Di balik sorotan dan pujian, transparansi, etika bisnis, dan tanggung jawab hukum tetap menjadi fondasi utama.
Naik cepat memang menggoda, tapi tanpa pijakan yang kuat, jatuhnya bisa jauh lebih menyakitkan.
(ikh/ikh)
Charlie Javice/ Foto: whartoncourtesy
Gokce Guven/ Foto: Tech Optimist