Kekayaan Beyonce Capai Rp16,7 Triliun, tapi Upah Buruh Ivy Park Cuma Rp8 Ribuan per Jam

Insertlive | Insertlive
Minggu, 04 Jan 2026 21:00 WIB
Gaya Beyonce di Kampanye Terbaru Levi's Kekayaan Beyonce Capai Rp16,7 Triliun, tapi Upah Buruh Ivy Park Cuma Rp8 Ribuan per Jam / Foto: Dok. Levi's
Jakarta, Insertlive -

Status Beyoncé sebagai musisi miliarder dunia kembali menjadi perbincangan. Namun, di balik pencapaian finansial yang menempatkannya sejajar dengan Taylor Swift dan nama besar lainnya, muncul sorotan tajam yang justru mengundang kontroversi.

Penyanyi berusia 44 tahun itu diseret dalam laporan yang menuding lini busananya, Ivy Park, mempekerjakan buruh pabrik di Sri Lanka dengan upah yang sangat rendah.

Nilainya bahkan disebut hanya setara sekitar Rp 8.000 per jam, angka yang memicu perdebatan luas di media sosial.

ADVERTISEMENT

Sorotan tersebut semakin menguat karena bertolak belakang dengan citra Ivy Park yang selama ini mengusung pesan pemberdayaan perempuan.

Banyak pihak mempertanyakan apakah kekayaan Beyoncé turut dibangun dari praktik tenaga kerja murah di negara berkembang.

Berdasarkan laporan dari Business and Human Rights Centre, para pekerja di pabrik MAS Holdings, Sri Lanka, mayoritas merupakan perempuan muda dari wilayah pedesaan.

Mereka disebut bekerja hingga 10 jam per hari dengan upah sekitar US$5 atau setara Rp80 ribu.

Jika dikalkulasikan dalam sebulan dengan 22 hari kerja, penghasilan para buruh hanya mencapai Rp1.760.000.


Tak hanya soal upah, laporan tersebut juga menyinggung kondisi tempat tinggal para pekerja. Mereka dikabarkan tinggal di asrama milik perusahaan dengan jam malam ketat hingga pukul 22.30.

Sejumlah aktivis menilai situasi tersebut sebagai bentuk praktik eksploitatif, terutama karena banyak pekerja enggan bersuara lantaran takut kehilangan mata pencaharian.

Ketimpangan antara narasi pemasaran Ivy Park yang mengangkat isu empowerment dengan realitas di balik proses produksi pun menjadi perhatian utama publik.

Menanggapi tudingan tersebut, pihak Ivy Park memberikan bantahan tegas. Dalam pernyataan resmi, label tersebut menegaskan komitmen mereka terhadap praktik perdagangan yang etis dan bertanggung jawab.

"Setiap pemasok diwajibkan memenuhi kode etik yang sangat ketat. Kami juga secara aktif mendukung mereka untuk mempertahankan standar tersebut," ujar juru bicara Ivy Park dalam pernyataan yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Meski klarifikasi telah disampaikan, gelombang kritik di media sosial belum mereda.

Banyak pengguna X menyoroti ironi antara status miliarder Beyoncé dan rendahnya upah buruh yang memproduksi lini busananya.

Sebagian bahkan mempertanyakan konsep kekayaan yang dianggap tidak pernah lepas dari eksploitasi.

"Tidak ada miliarder yang benar-benar etis. Untuk mencapai kekayaan sebesar itu, selalu ada pihak yang dieksploitasi," tulis seorang netizen.

"Beyoncé adalah pencuri dan musisi paling tidak etis, mulai dari isu sweatshop, klaim pencurian karya musik, hingga jejak emisi karbon yang sangat tinggi bersama Jay-Z," kritik netizen lainnya.

Di sisi lain, beberapa warganet mencoba memberikan konteks tambahan. Mereka menyebut Beyoncé tidak terlibat langsung dalam operasional pabrik karena produksi Ivy Park saat itu berada di bawah pengawasan Adidas. Kerja sama tersebut bahkan telah berakhir beberapa tahun lalu.

"Parkwood sudah menghentikan kerja sama itu sejak lama. Beyonce tidak menjalankan pabrik sendiri, dan lini Ivy Park yang lama diproduksi Adidas," jelas seorang pengguna.

Hingga kini, polemik tersebut masih terus bergulir dan menjadi perbincangan global, menyoroti relasi rumit antara industri fesyen, citra selebritas, dan isu keadilan tenaga kerja.

(ikh/ikh)
Tonton juga video berikut:


snap logo
SNAP! adalah kanal video vertikal yang menyajikan konten infotainment singkat, cepat, dan visual. SNAP! menghadirkan cuplikan selebriti, tren viral, hingga highlight interview.
LEBIH LANJUT
Loading
Loading
BACA JUGA
UPCOMING EVENTS Lebih lanjut
detikNetwork
VIDEO
TERKAIT
Loading
POPULER